KAMPUNGKU YANG HILANG


Rindu begitu menggebu setiap kali mendengar alunan lagu-lagu beraliran pop sunda yang sering mengantarkan saya pada kenangan-kenangan masa kecil dikampung halaman, yang penuh kedamaian dengan tiuapan angin segar yang Tuhan kirimkan dari surga. Sejauh mata memandang terhampar sawah nan hijau didepan pandangan, sungai-sungai yang mengalir dengan jernih.

Begitu tenteramnya suasana kampung, keseharian yang tidak pernah dibuat pusing denga persoalan hidup, urusan perut bukan lagi masalah, selama kami mau berusaha kami tidak akan kelaparan, kehidupan yang begitu akrab dengan alam, selalu terasa bahwa alam sudah menyediakan segalanya.

Tidak hanya itu, suasana desa yang begitu sejuk ditambah sejuk dengan kekaraban masyarakatnya yang ramah, sederhana, memegang teguh tatakrama, etika dan estetika. Masih ingat betul dalam benak saya, setiap ada salah satu warga yang punya hajat (kegiatan) semisal selametan, pindahan, ataupun resepsi pernikahan/khitanan, maka warga yang lainnya membantu dengan penuh ketulusan, gotong royong, seolah dalam darahnya itu mengalir deras jiwa kekeluargaan. Semuanya begitu tenteram, tanpa perselisihan…

Kala malam, tidur terasa begitu nyenyak karena hembusan sejuk udara yang menyelinap melalui celah-celah bilik rumah saya yang sederhana, mampu menyegarkan tubuh ini yang terasa begitu letih. Jujur, itu jauh lebih nikmat ketimbang dinginnya kipas angin ataupun AC.

Kala pagi, tidur yang begitu nikmat tersebut dibangunkan dengan nikmat pula oleh perpaduan suara azan dari mushola dibelakang rumah, yang dikuti dengan lengkingan suara ayam berkokok, ketika masih malas bangun, KH Zaenudin MZ pun dengan halusnya menyapa kami untuk membangun melalui siaran Radio (entah sekarang masih ada atau tidak radio yang menyiarkan ceramah KH. Zaenudin MZ dikala subuh). Begitu bangun keluar rumah, huaaaaaaaaammmmh……. udara begitu sejuk, kabut putih masih mengelilingi nuansa alam, seolah mengajak mata untuk terpejam kembali, namun dengan cepatnya fajar dari upuk timur memancarkan semangatnya, ahhh… saya jadi malu sama mentari kalau harus kembali memeluk bantal guling.

Begitulah secuil kenangan masa lalu yang mengingatkan keindahan masa kecil, dikeluarga yang kecil, kampung yang kecil, namun membuat jiwa kami menjadi besar. Kini kenangan itu tinggalah kenangan, tinggal cerita, karena semuanya sudah sirna, itu semua tidak lagi dapat saya temui dikampaung kelahiran. Mungkin ini karena saking terlalu lamanya nyangkut diperantauan.

Tak ada lagi ketentaraman, tidak ada lagai kesederhanaan, tidak ada lagi sungai-sungai yang jernah, tidak ada lagi gotong royong ataupun semangat kekeluargaan, begitu mudahnya berselisih begitu mudahnya materi menutup mata, telinga bahkan sanubari. Semuanya hampir berubah, mungkin hanya satu yang tidak berubah, yaitu jalan yang tidak pernah diaspal ataupun dicor. Satu hal perubahan yang sangat membanggakan dan membahagian, mesjid kami tidak lagi lapuk, kini sudah indah dan megah, semoga juga akan menggiring masyarakatnya untuk tetap mengingat Alloh SWT.

Dengan segala perubahannya, kadang saya merasa asing dikampung sendiri, ini memang menyedihkan. Namun saya juga sering merasa sakit sendiri kita hati saya berkata “tidak betah” di kampung sendiri. Mungkinkah kampung saya hilang ??? semoga saja tidak, karena dimanapun saya berada, saya tetaplah anak kampung, dari kampung, yang sudah barang tentu kelak saya harus bisa menjadi “untuk” kampung, karena dalam setiap diri baik saya, maupun yang lainnya harus tertanam “siapa lagi kalau bukan kita ?”. Beruntunglah mereka yang masih merasakan masa lalu saya itu… nikmati dan jaga agar itu tetap terpelihara kawan….!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: