MEMBANGUN NEGARA DENGAN MEMBUANG SIFAT BURUK KITA


Peribahasa mengatakan “Banyak Jalan Menuju Roma“, demikian juga dengan membangun negara. Pembangunan dinegara kita sudah dimulai jauh sebelum bangsa kita merdeka, ketika peradaban dimulai di bumi nusantara ini, kurang lebih dari situlah pembangunan dimulai. Pembangunan yang dimaksud tidak terkonotasi hanya pada pembangunan fisik semata, banyak hal yang harus dibangun oleh kita dengan tujuan yang bermuara pada kesejahteraan dan kemakmuran.

Semua orang memiliki tanggungjawab membangun sendiri-sendiri berdasarkan keahlian dan kemampuannya masing-masing, misalnya  seorang guru yang memiliki tanggungjawab dalam pengetahuan masyarakat, dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang membangun dibidang kesehatan, para ilmuwan yang membangun dibidang ilmu pengetahuan untuk menunjang kebutuhan aktivitas masyarakatnya, para politikus yang membangun negara melalui pembangunan politik, ideologi dan ketatanegaraan, para petani yang membangun di sektor kebutuhan pangan, para tokoh agama yang membangun mental dan kejiwaan rohaniah, dan profesi lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang kesemuanya berpotensi memberikan peran positif terhadap pembangunan negara.

Dari berbagai sudut pembangunan tersebut, semuanya memilik garis perannya sendiri (ibarat kendaraan, memiliki jalurnya tersendiri ),  Apabila semuanya berjalan baik sesuai garisnya maka titik yang ditujupun Insya Allah akan tercapai, yaitu kesejahteraan dan kemakmuran. Namun memang semua itu tidak berjalan mudah, banyak embel-embel yang menghambat lajunya, yang bukan hanya membebani namun juga memberikan efek negatif, yaitu sifat-sifat buruk yang ada pada diri kita. Semuanya memang memiliki peran masing-masing, namun semuanya memiliki masalah yang sama, yaitu sifat buruk diri pribadi.

Beberapa sifat buruk yang melekat pada diri kita adalah :

  • Malas
  • Bohong
  • Lalai
  • Jorok
  • Rakus
  • Materialis
  • Egois
  • Emosional
  • Dan lain sebagainya.

Dari berbagi sifat buruk tersebut, saya tidak akan menjelaskan semua pengertiannya karena saya yakin itu bukanlah hal yang terlalu sulit untuk kita artikan. Misalnya ketika kita melafalkan sebuah kata “Malas” maka akan terbayang dalam benak kita seperti apa itu malas, dan saya rasa itu sudah merupakan pengertian yang cukup mengenai istilah “malas”, dan begitu juga dengan yang lainnya.

Yang coba saya sampaikan disini adalah dimana antara sifat-sifat buruk tersebut terdapat rangkaian keterkaitan yang bilamana terangkai akan melahirkan masalah, masalah, masalah, masalah dan masalah. Semakin terangkai maka semakin kompleks pula masalahnya.

Sebagai gambaran, simak uraian sederhana berikut ini :

“Suatu ketika saya pulang dari daerah Jakarta Selatan dengan menaiki kendaraan umum, diperjalanan saya duduk bersama dengan seorang perempuan berusia sekitar 27 tahunan, sebut saja namanya Fulan. Sepanjang perjalanan dalam perhatian saya (sok perhatian banget sih gwe 😀 ) tidak henti-hentinya ia mengunyah makanan dan menyeruput minuman, berkali-kali sendawapun keluar dari mulutnya (jangan dibayangkan seperti apa, yang jelas saya sampai tutup mulut)”.

Apa yang ada dalam benak pikiran Anda, tentu “Jorooooooooooook..!!!”

Tidak hanya sampai disitu,

“Setelah makanannya habis, dengan seenaknya ia membuang bekas bungkusnya keluar melalui jendela mobil (hemmmmm… masih jorok + malas), tidak ia sadari ternyata bungkusan yang baru ia buang melayang mengani muka seorang pengendara motor di samping belakang sebelah kanan mobil yang sama-sama melaju dengan kencang, dan ternyata si pengendara tersebut tidak menggunakan helem, alhasil wajahnya tertutup bekas bungkus makanan dan matatnya perih terkena bekas makanan, dannnn….. braaaaaaaakkkkkkk..!!#!## karena oleng, ia terserempet oleh kendaraan lain disamping kanannya, kemudian kakinya terlindas oleh kendaraan yang kami tumpangi. Si pengendara motor terjatuh, mobil yang menyerempetnya mencoba kabur kemudian dikejar massa, kejaran massa akhirnya mampu memberhentikan kendaraan tersebut, dannnn… tanpa banyak omong massa pun langsung bakkk !!! buukkk !!! bikkk !!!##!! memukuli si pengendara mobil. Ada satu hal yang konyol, ketika massa yang berusaha menolong pengendara motor yang jatuh ternyata ada diantara mereka yang mencoba memanfaatkan kesempatan ditengah-tengah kesempitan, yaitu mencuri dompet si korban (parah…)”.

Baik, sampai disitu bisa kita bayangkan ada kemalasan, kejorokan, kelalaian, emosional, eogis, tidak empati dan tidak bertanggungjawab.

Kisahnya masih belum berakhir,

“Tidak lama kemudian, mobil patroli Polisi pun datang (masih selamatlah nyawa si pengendara mobil), dengan sigap polisi menangani kasus tersebut, si pengendara motor yang luka parah langsung dibawa ke Rumah Sakit oleh ambulan yang sudah dihubungi polisi, sementara sepeda motor yang rusak, mobil yang menabrak beserta pengemudinya dengan penuh perban dibawa ke Kantor Kepolisian. Lalu dimana si Fulan ????, ternyata masih asyik ngemil…..!!!😀 “.

“Sesampainya di Kantor Kepolisian, pemeriksaanpun dimulai dengan melibatkan beberapa saksi, setelah pemeriksaan selesai, kesimpulanpun didapat bahwa si pengendara motor bersalah, namun si pengendara mobilpun bersalah karena mencoba kabur sesaat setelah ia menabrak”.

Baik sobat kira-kira sampai disitu dulu kisahnya, kisah tersebut memang kisah fiktif yang coba saya kisahkan sebisa saya, namun dari situ dapat terbayang bahwa dari sifat buruk yang dianggap sepele bukan tidak mungkin akan menimbulkan efek negatif yang lumayan parah.

Lalu apa keterkaitannya dengan pembangunan bangsa ?

Sobat, berapa banyak ilmu yang kita kaji ? berapa banyak harta yang kita miliki ? seberapa tinggi jenjang pendidikan yang kita kenyam ?,  itu semua tidak akan memiliki arti apa-apa selama kita masih malas untuk berbuat yang positif, selama kita berperilaku jorok, selama kita menjadi pembohong, selama kita masih merugikan orang lain, dan selama masih memiliki sifat-sifat buruk lainnya. Betul memang manusia tidak ada yang sempurna, tapi kesempurnaan itu ada meskipun memang hanya miliki Tuhan, tapi coca angaplah kesempurnaan itu sebuah titik tujuan yang harus kita gapai, dan dengan begitu tentu kita akan berusaha menjadi diri yang lebih baik, tidak perlu beranggapan tidak mungkin menggapainya karena itu hanya akan merusak upaya perbaikan diri kita.

Sebagai makhluk yang dibekali akal pikiran dan perasaan, kita tidak boleh selalu berlindung dibalik kelamahan kita sebagai manusia biasa yang diciptakan Tuhan, karena bagaimanapun kita adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna, yang kelak akan dihadapkan pada pertanggungjawaban atas segala amal perbuatan kita. Marilah kita mulai dari membangun diri kita sendiri untuk membangun bangsa, karena hakikat pembangunan suatu bangsa itu sendiri adalah pembangunan jiwa, raga, dan Sumber Daya Manusia (SDM) setiap insani rakyatnya.

Para sahabat, kawan dan handai taulan pembaca tulisan ini, saya yakini betul bahwa tulisan ini jauh dari kata sempurna dan penuh dengan kekurangan disana sini, oleh karena itu saya sangat mengharapkan sekali adanya koreksi, saran dan kritik dari anda semua, bukan demi tulisan ini ataupun saya, melainkan untuk kemajuan kita bersama, sekian dan semoga bermanfaat !

Comments
One Response to “MEMBANGUN NEGARA DENGAN MEMBUANG SIFAT BURUK KITA”
  1. hellgalicious mengatakan:

    setuju banget bang
    semua harus dimulai dari diri kita sendiri
    dimulai dari yang terkecil dulu

    masa kalah ama monyet itu.
    hihihi

    semoga negara ini segera berubah
    amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: