ANTARA KOMJEN SUSNO DUADJI DAN JENDERAL CHARLES DE GAULLE


Komjen. Drs. Susno Duadji, S.H, M.sc.

Komjen. Drs. Susno Duadji, S.H, M.sc.

Seperti biasa pergolakan hukum di negara kita kembali terjadi seperti eposide-episode yang telah berlalu, begitu unik permasalahan yang menyelimuti dunia hukum negara kita. Setelah kepolisian dikuras konsentrasinya oleh “sindrom” (baca kasus) bank Century yang sedikit banyak telah mencoreng martabat dan kehormatannya, tidak lama kemudian kepolisian dapat menambal kembali kehormatan yang telah berlubang itu dengan pengejaran dan penggerebekan orang-orang yang disebut atau diduga teroris. Lambat laun apresiasi dan penghormatan dari masyarakatpun mulai tumbuh hingga mampu membuat isu Century sedikit tertimbun dari pemberitaan media masa. Tidak  jauh dari peristiwa pengejaran teroris (dan bahkan masih berlangsung), laksana petir disiang hari kepolisianpun dibuat geger dengan pernyataan seorang jenderalnya yang berbintang tiga Komjen Susno Duadji, dengan tegas sang jenderal mengatakan bahwa di Mabes Polri tepatnya disamping ruangan Kapolri ada ruangan tempat Makelar Kasus (Markus) bersarang, tidak hanya itu, dengan tegasnya Komjen Susno-pun berani menyebutkan inisial nama pejabat dilingkungan Polri yang ter kait dengan Markus tersebut.

Sontak saja pernyataan Komjen Susno-pun menjadi bahan pemberitaan manis bagi media yang kemudian menimbulkan banyak pertanyaan masyarakat luas, Ada apa dengan Polri ?. Heeeeeeeemmmm….. dengan adanya polemik ini terang saja sedikit banyaknya masyarakat dibuat kurang percaya terhadap institusi kepolisian di negara ini, dan sudah bisa ditebak bahwa, yang paling jatuh kredibilitas dan kehormatannya adalah dua bagian Polri yaitu, Kapolri sebagai bagian paling atas lembaga kepolisian dan prajurit-prjaurit-bintara-bintara sebagai ujung tombak peran kepolisian ditingkat paling bawah. Hal ini tentunya tidak boleh dibiarkan, karena bagaimanapun polisi harus tetap ada, negara tanpa polisi maka akan terjadi kekacauan, dan jangan samapai hal-hal seperti ini dimanfaat lebih dalam lagi oleh para “mafia-mafia” hukum dinegara ini.

Komjen Drs. Susno Duadji, S.H, M. Sc. Seorang perwira tinggi kepolisian Republik Indonesia, lahir di Pagar Alam, Sumatera Barat pada tahun 1954. Pria yang berpangkat jenderal bintang tiga ini sekarang menjadi sosok fenomenal di arena hukum Indonesia, banyak pandangan dan pendapat yang dilontarkan tentang dirinya terkait dengan lontaran pernyataanya. Sosok Komjen Susno sempat digadang-gadang sebagai  pemain kunci dalam pertarungan cicak versus buaya, akibat pertarungan itu pula kehormatan seorang Susno Duadji jatuh dimata publik, begitu banyak masyarakat yang mencibir dan menghujatnya hingga ia-pun harus rela menyandang jenderal bintang tiga tanpa jabatan.

Kondisi ini pula yang diasumsikan oleh sebagian pihak yang menyatakan bahwa Komjen Susno berani mengungkapkan adanya markus ditubuh Polri karena Komjen Susno telah jenuh dengan posisinya saat ini (yang tanpa jabatan) dan ditambah dengan rusaknya nama baik beliau. Entah apa sebetulnya motivasi Komjen Susno dalam mengungkapkan keadaan markus di tubuh  Polri sebetulnya kita tidak tahu biarlah itu menjadi suara hati pribadi beliau, yang jelas Komjen Susno telah mengambil sebuah pilihan yang sudah pasti ada konsekuensinya, yaitu didaulat sebagai pahlawan atau tercatat sebagai pengkhianat. Kecil kemungkinan tingkat kekeliruan atas pernyataan yang dikeluarkan leh komjen susno, karena itu memiliki korelasi yang tinggi dengan bidangnya sekaligus terjadi di instansinya.

Andaikan apa yang diungkapkan oleh komjen Susno itu benar, berarti kepolisian betul-betul harus direformasi, disinilah kredibilitas dan ketegasan seorang Kapolri ditentukan, memang ini jauh lebih sulit dari memburu teroris dan mengungkap jaringan narkoba. Melihat tindakkan Komjen Susno untuk yang kasus yang satu ini mengingatkan saya akan seorang Jenderal Charles de Gaulle, sorang pria mantan Presiden Prancis pada periode (1958-1968).

Jenderal Charles de Gaulle adalah contoh tokoh kontroversial yang mampu merubah paradigma militer Prancis dari sebuah

Jenderal Charles de Gaulle

Jenderal Charles de Gaulle

institusi yang semula terlibat aktif dalam kegiatan politik, menjadi alat negara yang modern dan profesional. Sejak masih berpangkat letnan kolonel ia telah menimbulkan keresahan di jajaran militer Prancis karena tulisan-tulisannya tentang hubungan sipil dan militer (La Discorde Chez I’ennemi), teori kepemimpinan (Le Fil de I’epee),  dan masa depan militer Prancis (La France et Son Armee), bertolak belakang dengan keadaan militer saat itu. Pembangkangannya mencapai puncaknya saat ia berpangkat brigadir jenderal, dan ia menolak kebijakan Jenderal Besar Philippe Petain (Panglima angkatan bersenjata dan pahlawan Prancis dalam Perang Dunia I) untuk menyerah pada Jerman. De Gaulle memilih lari ke Inggris dan membentuk pemerintahan dalam pengasingan. Pengadilan militer Prancis kemudian secara in abstentia menjatuhkan hukuman mati, pemecatan dari dinas militer, serta penyitaan hartanya, pada 1940. Namun, sejarah Prancis mencatat sang Jenderal sebagai hero yang mampu mengusir penjajah Jerman, dan dia bahkan terpilih sebagai seorang presiden selama 3 periode, dan membawa prancis menjadi negara yang memerdekakan dua belas jajahannya.

Melihat dari sejarah Jenderal Charles de Gaulle, bukan berarti kita ingin kembali ke masa lalu dan bukan pula mengharapkan Komjen Susno menjadi seperti Jenderal de Gaulle yang melarikan diri ke negeri lain. Hanya, dari kedua kisah dua tokoh tersebut ada pelajaran yang dapat kita ambil, yaitu loyalitas dan integritas. Komjen Susno harus menerima 1 dari 2 konsekuensi yaitu hina dan mulia dan itu sama halnya dengan yang sudah dialami oleh Jenderal de Gaulle ketika ia berani mendobrak tradisi militer Prancis pada zamannya. Secara langsung maupun tidak, mungkin Komjen Susno akan dicibir habis-habisan oleh rekan-rekan sejawat di institusinya  karena ia sudah menunjukan noda dipakaiannya sendiri (kalau pernyataan beliau tidak benar adanya), namun ia akan diacungi jempol oleh masyarakat (kalau pernyataan beliau benar adanya), meskipum memang masyarakat kita cenderung pragmatis. Jenderal de Gaulle telah mempelopori reformasi di tubuh militer Prancis pada zamannya, dan bukan tidak mungkin Komjen Susno juga mempelopori reformasi di tubuh Polri (untuk kesekian kalinya) kearah yang jauh lebih baik, meskipun konsekuensi yang akan ia tanggung sangat berat.

Lalu bagaimana seharusnya Polri memandang Komjen Susno ketika pernyataannya itu benar adanya ?. Bukan saya sok tahu atau menggurui dan bukan pula saya membela Komjen Susno, seandainya apa yang ia ungkapkan itu benar bagi saya justru disitulah Komjen Susno telah menunjukan loyalitasnya kepada institusi Polri serta integritasnya sebagai seorang pengawal hukum. Pertanyaannya, kenapa ia mengungkapkan masalah tersebut dimuka umum ?, mungkin… sekali lagi mungkin, seandainya ia mengungkapkan kepada rekan sejawat dan atasannya itu tidak akan ada tanggapan, dan mungkin (lagi) melalui konferensi perss akan ada tanggapan dari semua pihak, respon dari Polri sendiri, motivasi mental dari masyarakat serta keterbukaan atas proses hukum yang berkeadilan serta ia telah mempertaruhkan habis-habisan nama baiknya.

Proses hukum atas permasalahan tersebut kini sudah berlangsung, terkaan dan harapanpun mengelayut disetiap kepala yang mengikuti perkembangannya. Polri mempertaruhkan kredibilitasnya, Kapolri mempertaruhkan ketegasannya, Semua Lembaga Hukum mempertaruhkan keadilannya, dan Komjen Susno mempertaruhkan Kehormatan serta Jabatannya, dan kita sebagai masryarakat mempertaruhkan kepercayaan.

Melihat keterkaitan kisah Komjen Susno dan Jenderal de Gaulle bukan berarti saya memposisikan sosok Komjen Susno sebagai seorang pahlawan atau pemimpin masa depan (meskipun itu mungkin). Saya hanya berusaha menarik pelajaran dan hikmah dari sebuah peristiwa yang memang Allah menakdirkannya kepada sorang Komjen Susno Duadji yang saya coba korelasikan kemiripannya dengan catatan sejarah Jenderal Charles de Gaulle, meskipun diantara keduanya beda substansi, waktu dan mungkin  ending-nya. Dalam artikel ini tidak upaya peny-jusctice-an terhadap permasalahan yang berlangsung, tidak ada juga keberpihakan kepada salah satu pihak atau lebih, saya hanya mencoba belajar berpikir sebagai respon atas polemik yang berkembang dan menuangkannya kedalam blog yang sederhana ini, disadari atau tidak artikel ini pasti banyak kekliruannya, mohon maaf kepada pihak yang mungkin kurang berkenan, semoga apa yang saya sampaikan ada manfaatnya.

Comments
One Response to “ANTARA KOMJEN SUSNO DUADJI DAN JENDERAL CHARLES DE GAULLE”
  1. andika mengatakan:

    mungkin ada kemiripan tp tentunya berbeda alasan yg mendasari kedua tokoh itu ! kita hendaklah memetik dari apa yg sudah terjadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: