PERGURUAN TINGGI IDAMAN DALAM PERSPEKTIF SEORANG BLOGGER


Beberapa waktu lalu saya sempat menuangkan definisi saya tentang idealnya sebuah perguruan tinggi yang menjadi idaman menurut pandangan dan pendapat saya. Saat ini definisi sebuah perguruan tinggi idaman banyak diperbincangkan khususnya oleh para blogger yang bertepatan dengan diadakannya Lomba Blog UII yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Berbagai definisi bermunculan dari kawan-kawan blogger yang saya yakin semua definisi tersebut dapat terangkum menjadu ide dan gagasan untuk mewujudkan sebuah perguruan tinggi yang tidak hanya menjadi idaman satu – dua blogger tapi juga dapat menjadi idaman seluruh masyarakat.

Sisi lain yang menarik dari kontes blog UII ini adalah adanya perhatian dari UII kepada blogger untuk diajak mendefinisikan Apa sih perguruan tinggi idaman itu ?, sehingga dari berbagai definisi tersebut dapat terangkum pemikiran-pemikiran yang membangun dunia pendidikan Indonesia, dan lebih dahsyat lagi ketika definisi-definisi tersebut betul-betul diwujudkan khusunya oleh UII sebagai penggagas kontes tersebut. Oleh karena hal tersebut saya pun tidak mau ketinggalan, terlepas dari menang atau tidak yang penting saya sudah berupaya untuk turut berkontribusi sebagai blogger yang mendefinsikan perguruan tinggi idaman, dengan harapan definisi tersebut dapat menjadi ide dan gagasan.

Dengan segala  keterbatasan kemampuan tingkat berpikir, pengetahuan dan waktu yang saya miliki, saya mencoba untuk mengembangkan sekaligus evaluasi atas definisi saya sebelumnya tentang  perguruan tinggi yang mungkin layak disebut idaman menurut saya.

A. VISIONER

1. Konsep

Menurut JB. Whittaker, visi adalah gambaran masa depan yang dipilih dan hendak diwujudkan pada suatu saat yang

Sebuah visi harus dirumuskan dengan melihat jauh ke masa yang akan datang

ditentukan. Suatu kondisi yang realistik, dapat dipercaya, meyakinkan serta mengandung daya tarik. Visi sebagai pedoman perguruan tinggi harus disusun berdasarkan tujuan awal pendirian perguruan tinggi tersbut sesuai dengan konsentrasi akademiknya. Sebagai contoh, jika perguruan tinggi tersebut berkonsentrasi dibidang pendidikan pertanian maka rancanglah visi sebuah perguruan tinggi yang fokus dibidang pendidikan pertanian yang mencerminkan cita-cita peran perguruan tinggi tersebut dalam bidang pertanian. Demikian halnya untuk perguruan tinggi yang konsen di bidang-bidang lainnya termasuk bidang keagamaan.

Visi harus dirancang serealistis mungkin sehingga gagasan awal konsep perguruan tinggi tersebut tidak menjadi kabur, visi harus dirancang untuk jangka panjang, dan sebagai penopang visi yang jangkanya panjang tersebut maka harus dikonsep pula misi, kumpulan misi-misi inilah yang kemudian menjadi sebuah visi. Sebagai gambaran berikut adalah contoh konsep visi Rumah Sakit Sint Vincent Hospital, Australia :

SVH = B (3V + 5A = 10/10W)G

Artinya, dalam tiga tahun kedepan Rumah Sakit Sint Vincent Hospital akan menjadi rumah sakit terbaik di Victoria, dan Lima tahun kemudian menjadi rumah sakit terbaik di Australia, dan akhirnya Sepuluh tahun kemudian menjadi Sepuluh besar rumah sakit terbaik didunia berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa.

Mau tidak mau visi juga harus bersifat menantang akan tetapi juga harus realistis sehingga akan terus memacu lingkup civitasnya untuk mewujudkannya, tantangan yang hadir dalam visi tersebut harus hadir seiring dengan kuatnya arus persaingan antar perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri. Visi harus menyatakan sebuah masa depan yang menjanjikan dan visi harus berorientasi pada manusia sebagai subjek utama yang akan mewujudkannya. Sealin sebagai cita-cita visi juga harus mampu menjadi dorongan semangat. Sebuah visi tidak harus panjang lebar yang penting tidak kaku, harus terkait dengan objek perguruan tinggi dan mendeskripsikan sesuatu yang ideal.

Untuk membuat grand design sebuah visi, pimpinan atau rektor atau mungkin pemilik yayasan tidak perlu ragu untuk mengumpulkan semua Sumber Daya Manusia (SDM) yang nanti akan menjadi pionir dalam mewujudkan visi tersebut untuk membahasnya bersama-sama dalam merumuskan visi sebuah perguruan tinggi.

2. Strategi

Ketika sebuah visi sudah terkonsep maka langkah selanjutnya adalah kita harus merancang  strategi atau langkah dalam mewujudkan visi tersebut.  Strategi adalah unsur turunan kedua dari visi setelah misi. Ibarat kita mau membangun rumah, maka apa saja yang diperlukan untuk membangun rumah tersebut dan demikian juga dengan mewujudkan visi.

Hal yang paling sederhana dalam mewujudkan sebuah visi adalah sumber daya manusia (SDM), kemudian materi, waktu, dan sarana, selebihnya kita mengharapkan ridho kepada Allah SWT. Strategi harus dibangun berdasarkan pos-pos misi yang sudah direncanakan untuk membangun visi. Seperti ibarat membangun sebuah rumah tadi, maka dalam satu rumah terdiri beberapa bagian, ada pondasi, lantai, dinding, langit-langit, pintu, jendela, rangka atap dan atap dan supaya rumah tersebut berdiri kokoh dan indah maka semua bagian-bagian tersebut harus dikerjakan oleh ahlinya. Dalam sebuah strategi mewujudkan misi, maka kita harus menyusun rencana-rencana yang matang untuk mewujudkan misi-misi yang direncakan. Jika semua misi berhasil maka dengan sendirinya visipun tercapai.

Strategi yang telah disusun sangat sulit untuk dilaksanakan secara serta merta, terlebih lagi jika penuh dengan keterbatasan, oleh karena itu  harus dilaksanakan secara berkala setahap demi setahap dan agar pelaksanaanya tidak berantakan maka dibuatlah agenda sebagai pedoman jangka pendek.

3. Pencitraan

Ketika sebuah visi sudah terbentuk berikut dengan misi dan strateginya, maka langkah selanjutnya adalah pencitraan. Pencitraan disini maksudnya adalah mengenalkan kepada semua unsur perguruan tinggi bahwa perguruan tinggi tersebut memiliki sebuah visi yang harus diwujudkan bersama-sama. Pencitraan visi tidak hanya berhenti disitu, visi juga harus diaplikasikan terhadap suasana kampus sebagai brand kampus yang nantinya akan menjadi identitas kampus tersebut. Ketika pencitraan tersebut sudah melekat secara poisitif sebagai identitas dan ciri khas kampus maka tidak ada salahnya untuk mem-follow up-nya secara luas.

Sebagai contoh, ketika sebuah perguruan tinggi memiliki visi yang konsen dibidang teknologi, maka suasana kehidupan kampuspun harus memiliki identitas sebagai sebuah kampus yang konsen dibidang teknologi, maka dengan sendirinya perguruan tinggi tersebutpun akan dikenal luas sebagai perguruan tinggi yang bonafit dan berkualitas dibidang teknologi.

4. Evaluasi

Setelah visi sudah mencapai titik branding atau pencitraan, maka secara berkala perguruan tinggi harus mengevaluasinya kembali berdasarkan tahapan agenda yang telah dibuat. Apakah visi tersebut sudah menjadi identitas atau belum ? apakah visi yang dirumuskan bersama tersebut sudah dilaksanakan secara bersama-sama pula atau tidak ? Apakah semua strategi berjalan sesuai rencana atau tidak ? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Ketika visi tersebut berjalan sesuai agenda dan berhasil sesuai yang diharapkan maka harus siap untuk melangkah ke agenda selanjutnya, akan tetapi jika agenda tidak sesuai dan hasil tidak seperti yang diharapkan karena adanya berbagai kesalahan yang membuat itu gagal, maka tidak ada salahnya untuk mencoba kembali (secara benar dan maksimal), namun jika masih gagal maka tidak ada salahnya untuk membuat perencanaan kembali.

B. MORALITAS

Dalam kehidupan kampus sebagai salah satu ikon pendidikan, moralitas hal yang tidak bisa dipungkiri, banyak hal yang menjadi unsur dalam moralitas sebuah kampus ;

1. Agama

Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa agama dan keimanan adalah benteng utama dalam mendidik moralitas sekaligus menjaganya dalam trend positif. Peran agama dirasa masih cukup efektif karena didalam agama ada unsur pertanggungjawaban dan konseskuensi dari kehidupan, rasa keimanan yang kuat kepada Tuhan akan menjadi sugesti tersendiri untuk tidak melakukan hal-hal yang menyimpang dari aturan-Nya.

Sebuah perguruan tinggi harus mejadikan pendidikan agama sebagai pendamping pendidikan duniawi, idelanya 50 % pendidikan duniawi maka 50% pula pendidikan agama. Karena harus ada keseimbangan antara ilmu dunia dan ilmu agama (akhirat),  hal ini supaya dalam pengaplikasian ilmu dunia yang dimiliki akan terus didampingi dengan ilmu agama, sehingga setiap ilmu dan perbuatan yang diamalkan Insya Allah selalu mengandung nilai ibadah.

Banyak hal kegiatan yang dapat memberikan nilai pendidikan agama terhadap mahasiswa, sebagai contoh antara lain;

  • Pendidikan agama yang memang sudah diatur dalam  kurikulum formal.
  • Tersedianya organisasi kegiatan kemahasiswaan yang bersifat kerohanian dan keagamaan
  • Pola pendidikan agama pada pesantren yang diterapkan pada pendidikan kampus, yaitu tersedia asrama bagi mahasiswa atau jika perlu mahasiswa diwajibkan tinggal disitu, dan jika diluar pendidikan perkuliahan maka berlakulah peraturan model kehdiupan di pesantren.
  • Sistem atau aturan yang berlandaskan hukum/ aturan agama, sebagai contoh, yaitu diwajibkan bagi mahasiswa/mahasiswa yang beragama Islam untuk menutup aurat. Dalam mewajibkan aturan agama sesuai dengan penganutnya perguruan tidak usah ragu, karena Tuhan saja sudah mengharuskan aturan itu yang kemudian harus diyakini dan ditaati oleh umatnya.
  • Fasilitas kegiatan keagamaan yang mendukung.
  • Dan lain sebagainya.

Demonstrasi kini identik dengan mahasiwa, tidak ada yang salah dengan demonstrasi selama masih mengedepankan etika dan moralitas.

2. Teladan

Peribahasa mengatakan : “Suri tauladan yang terbaik adalah contoh yang terbaik”. Demikian pula untuk sebuah perguruan tinggi, secara struktural maka yang paling bertanggungjawab dalam memberikan teladan adalah rektor, rektor harus memberikan teladan terutama untuk bawahannya. Secara interaksional, maka yang harus memberikan teladan yang terbaik adalah dosen ataupun pengajar. Peribahasa mengatakan “Guru kencing berdiri, murid kecing berlari”.

Mau tidak mau pendidik harus mampu menjaga sikap dan tingkah lakunya, dosen harus menjadi “juru kampanye” moralitas. Meskipun demikian figur dosen yang baik dalam memberikan teladan bukan berarti harus menjadi panutan sepenuhnya, terlebih lagi bagi  seorang muslim. Karena kita tahu betul akan firman Allah SWT :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ

وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya : “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS:Al Ahzab: 21)”.

3. Norma dan Budaya

Bangsa Indonesia sering berpedoman pada adat ketimuran yang cenderung menjaga kesopanan, keramahan dan kesusilaan. adat ketimuran tersebut sudah menjadi norma sebagai aturan  tidak  tertulis yang mentradisi, hal itu pula yang membuat dengan mudah dan senangnya bangsa lain berkunjung atau meungkin sekaligus menjajah bangsa kita, karena bangsa kita dulunya bangsa yang selalu berpraduga tak bersalah. Norma ketimuran ini harus kembali dikaji ulang sebagai norma-norma yang betul-betul positif dan kemudian diimplementasikan diperguruan tinggi.

Khusus untuk budaya bukan berarti 100%  budaya yang ada diimpementasikan diperguruan tinggi, budaya lahir dari pemikiran manusia, oleh karena itu budaya harus disaring pula dan penyaring yang paling baik adalah agama tentunya agama Islam sebagai agama yang saya yakini. Budaya harus dinilai dulu dari kacamata agama Islam, apakah budaya tersebut menyimpang atau tidak dari ajaran agama Islam ?, berlawanan atau tidak ?, kalau memang budaya tersebut cenderung merusak akidah dan bertentangan dengan agama Islam,  maka buat apa dipertahankan ?.

Sebagai contoh krisisnya moral dikalangan generasi muda, kita dapat menyimak sejenak ulasan berita berikut ini yang mungkin masih lekat dalam ingatan kita :

C. MANAJEMEN

Berbicara manajemen sama halnya dengan berbicara mutu, karena dari manajemen yang baik dan bermutu tentu akan berproses dengan bermutu pula dan tentunya lagi akan menghasilkan sesuatu yang bermutu.

1.Standarisasi Internasional

ISO 9001 adalah salah satu standard yang menjamin mutu manajemen suatu perguruan tinggi

Sebuah perguruan tinggi harus memiliki grade standar yang jelas dan terukur sebagaimana yang dituangkan dalam visi dan misi. Perguruan tinngi yang ideal tentunya tidak bisa lagi berstandarkan nasional atau lokal, tetapi harus internasional. Konteks perguruan tingginya tidak lagi membangun daerah melainkan harus mampu menjadi bagian dari pionir pembangunan bangsa dan dunia. Untuk menumbuhkan kesadaran akan mutu yang berstandar internasional maka pihak rektorat dan jajarannya sebagai pihak manajemen kampus harus mampu membangun sistem dan berkomitmen secara bersama-sama.

Sistem yang baik dan bermutu harus diperkuat dengan adanya sertifikasi sistem manajemen mutu. Salah satu sisitem penjamin mutu adalah ISO 9000 , Menurut wikipedia ISO 9000 adalah ;

kumpulan standar untuk sistem manajemen mutu (SMM). ISO 9000 yang dirumuskan oleh TC 176 ISO, yaitu organisasi internasional di bidang standarisasi.

  • adanya satu set prosedur yang mencakup semua proses penting dalam bisnis;
  • adanya pengawasan dalam proses pembuatan untuk memastikan bahwa sistem menghasilkan produk-produk berkualitas;
  • tersimpannya data dan arsip penting dengan baik;
  • adanya pemeriksaan barang-barang yang telah diproduksi untuk mencari unit-unit yang rusak, dengan disertai tindakan perbaikan yang benar apabila dibutuhkan;
  • secara teratur meninjau keefektifan tiap-tiap proses dan sistem kualitas itu sendiri.

Sebuah perusahaan atau organisasi yang telah diaudit dan disertifikasi sebagai perusahaan yang memenuhi syarat-syarat dalam ISO 9001 berhak mencantumkan label “ISO 9001 Certified” atau “ISO 9001 Registered”. Sertifikasi terhadap salah satu ISO 9000 standar tidak menjamin kualitas dari barang dan jasa yang dihasilkan. Sertifikasi hanya menyatakan bahwa bisnis proses yang berkualitas dan konsisten dilaksanakan di perusahaan atau organisasi tersebut.

2. Perbandingan

Pesatnya pertumbuhan ilmu pengetahuan telah mendorong berbagai perguruan tinggi untuk lebih memacu profesionalitasnya, oleh karena itu sudah merupakan keharusan bagi setiap perguruan untuk melakukan upaya perbandingan keperguruan tinggi lain yang sudah memiliki kredibilitas tinggi. Upaya perbandingan paling sederhana adalah membandingkan dari sisi manajemen.

Perbandingan dimulai dari tingkat lokal sebagai upaya untuk lebih unggul ditingkat tersebut, kemudian naik ke tingkat nasional, dan berlanjut ke tingkat internasional. Dari hasil perbandingan yang diperoleh setelah studi banding, maka tidak ada salahnya untuk meng-copy segala yang baik yang ada diperguruan tinggi tersebut dan kemudian menerapkannya di perguruan tinggi sendiri, dengan catatan boleh menjiplak tapi harus lebih baik.

3. Keuangan

Manajemen keuangan adalah sesuatu yang cukup krusial, harus penuh kehati-hatian. Berkaitan dengan masalah keuangan, perguruan tinggi harus membuang jauh-jauh prinsip mencari keuntungan semata atau menjadikan lembaga pendidikan hanya sebagao objek bisnis. Keuntungan memang hasru ada, tapi bukan berarti harus lebih.

Sistem pengelolaan keuangan harus dapat diaudit oleh lembaga auditor publik dan non publik (pemerintah). Pengelolaan keuangan terintegrasi dengan sistem akuntansi komputerisasi secara otomatis untuk menghindari terjadinya human error, beberapa inovasi sitem keuangan yang bisa dilakukan dan memiliki nilai plus menurut saya adalah :

  • Sistem pembayaran biaya kuliah secara online baik itu melaui Anjungan Tunai Mandir (ATM), Internet Banking atau bahkan SMS Banking.
  • Data informasi administrasi keuangan mahasiswa selama kuliah yang bisa  diakses oleh mahasiswa dengan catatan hanya bisa diakses oleh mahasiswa yang bersangkutan atas namanya sendiri.
  • Data keuangan yang realtime sehingga dapat diakses dan diawasi secara terbuka khususnya oleh pihak rektorat atau manajemen perguruan tinggi.
  • Sebagai bahan masukan (bukan promosi), mungkin perguruan tinggi dapat menggunakan aplikasi komputer sistem manajemen keuangan yang sudah ada dipasaran yang telah teruji atau mungkin hasil pengembangan sendiri yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan fleksibilitas.
  • Tersedianya koperasi simpan pinjam dikampus sebagai penyedia dana talangan bagi mahasiswa yang membutuhkan sekali biaya untuk penelitian, dengan sistem pengembalian yang berjangka.
  • Membuka layanan subsidi silang dari mahasiswa yang mampu untuk mahasiswa yang kurang mampu, dengan catatan tidak ada ekspose secara terbuka terhadap mahasiswa yang dianggap kurang mampu tersebut agar tidak terjadi kesenjangan sosial, namun pihak kampus tetap dapat menyampaikan daftar penerima subsidi tersebut hanya kepada relawan pemberi subsidi sebagai bentuk pertanggung jawaban pengelola keuangan.
  • Membuka layanan usaha kampus sebagai nilai tambah finansial bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitasnya.
  • Bekerjasama dengan pihak bank, agar pihak bank mau memberikan program pembiayaan bantuan kredit kuliah kepada mahasiswa tanpa bunga.
  • Dan lain sebagainya.

Saya rasa mungkin ada sistem pengelolaan keuangan yang lebih baik dan canggih dari apa yang saya bayangkan.

4. Profesionalitas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, Profesionalitas adalah

pro·fe·si·o·na·li·tas /profésionalitas/ n 1 perihal profesi; keprofesian; 2 kemampuan untuk bertindak secara profesional

Sedikit menarik dari pengembangan arti profesionalitas menurut KBBI diatas dan keterkaitannya dengan manajemen perguruan tinggi ini berarti bahwa unsur-unsur dalam manajemen kampus harus memiliki kemampuan yang mumpuni sesuai dengan bidang kerjanya, idelanya orang-orang terbaik dibidang disiplin ilmunya harus menempati pos kerjanya sehingga hasil kinerjapun memuaskan dan dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun secara hukum.

Selain ahli dibidangnya tentunya juga harus diutamakan pengalamannya, pengalaman bisa pula menjadi penentu tingkat jabatan, maksudnya, seseorang yang ahli dibidangnya dan mempunyai pengalaman yang luas dengan disiplin ilmunya harus diposisikan sebagai pimpinan dibagiannya dan kepada yang ahli juga dibidangnya namun belum memiliki pengalaman yang luas (fresh graduate) diposisikan sebagai pelaksana utama dibagian tersebut dengan bimbingan pimpinan yang lebih berpengalaman tadi.

5. Loyalitas

Setiap orang yang berada di jajaran struktur manajemen perguruan tinggi harus memiliki loyalitas yang tinggi terhadap lembaga yang dikelolanya, sehingga akan menularkan rasa peduli, perhatian dan memiliki kepada seluruh warga kampus. Loyalitas akan memberikan rasa bangga sebagai bagian dari perguruan tinggi yang dikelolanya namun juga akan disertai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memajukannya. Dengan adanya rasa loyal, kita tidak akan lagi terobsesi dengan karir dengan jabatan melainkan akan membentuk pengabdian yang tinggi, tapi jangan salah, dengan sendirinya pengabdian yang tulus dapat membawa kita kejenjang karir dan jabatan yang lebih baik  yang sebelumnya tidak diharap-harapkan karena memang bukan itu yang dicari.

6. Evaluasi

Pihak rektorat dan jajarannya harus membuat drap tolak ukur keberhasilan sebuah sistem manajemen yang kemudian akan dijadikan sebagai patokan bahan evaluasi. Evaluasi dilakukan harus dengan perbandingan, apa yang dibawa dari hasil studi banding tidak dapat diaplikasikan secara serta merta, melainkan harus ada pengkajian terlebih dahulu dan mengevaluasi sistem yang ada, jika sistem yang baru dirasa cocok dan sesuai dengan visi perguruan tinggi serta lebih baik dari sistem yang ada barulah sistem yang baru bisa diterapkan. Evaluasi juga dilakukan sebagai momen penilaian atas kinerja semua struktur elemen kampus.

D. PENGAJAR

Kualitas tenaga pengajar atau dosen jelas merupakan salah satu unsur terpenting yang tidak bisa ditiadakan dalam mendefiniskan sebuah perguruan tinggi idaman, banyak hal yang menjadi faktor dosen atau pengajar sebagai sosok sentral dalam sebuah perguruan tinggi idaman.

1. Kualifikasi

Perguruan tinggi harus selektif dalam memilih atau mencari sosok seorang dosen, dosen yang ada harus betul-betul memiliki daya saing antar sesama dosen sesuai dengan disiplin ilmunya. Perguruan tinggi harus memiliki rekam jejak prestasi seorang dosen selama ia kuliah dan hingga lulus kuliah. Dalam menyeleksi dosen tentunya juga tidak hanya dilihat dari faktor ilmu pengetahuan semata melainkan juga harus dinilai dari sisi moralitas dan keriligiusannya.

Dalam memilih calon dosen, pergurun tinggi harus menyusun patokan-patokan yang baku sebagai tolak ukur dalam memilih seorang dosen, bagi saya seorang dosen pada sebuah perguruan tinggi idaman minimal secara akademik harus seorang profesor, memang profesor bukan zaminan tapi setidaknya profesor adalah tanda pengakuan akan sebuah prestasi yang telah dicapai seorang dosen. Selain itu seorang dosen juga harus menguasai bahasa Inggris atau mungkin lainnya sebagai pendamping bahasa Indonesia, sehingga sang dosen memiliki kualifikasi yang bertaraf internasional dan siap mendidik mahasiswa dari luar negeri.

2. Pendidikan Lanjut

Dosen harus diberikan kesempatan untuk terus mencari dan mengembangkan wawasan dan ilmu pengetahuannya baik melalui pendidikan formal maupun non formal seperti loka karya, workshop, simposium, seminar, penelitian  dan lain sebagainya. Kesempatan yang diberikan tidak hanya dari segi waktu, kalau perlu termasuk juga dari segi fasilitas dan biaya. Suasana lingkungan kerja dosen harus memberikan kesegaran dan kenyamanan sehingga ada rasa semangat yang akan menuntun dosen untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan penuh rasa tanggungjawab dan keikhlasan.

Perguruan tinggi juga kalau perlu harus mengadakan program pertukaran dosen dengan perguruan tinggi lain baik dalam maupun luar negeri sebagai upaya pencarian pengalaman dan wawasan di perguruan tinggi lain untuk kemudian bisa diambil yang positifnya dan diterapkan di perguruan tinggi asal.

3. Komitmen

Antara pihak manajemen perguruan tinggi dan dosen harus terjalin komitmen yang kuat dan dapat dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap komitmen yang dibangun, komitmen yang dibangun antara lain ;

  • Perguruan tinggi harus menerapkan sistem jenjang karir sebagai bentuk penghargaan atas kinerja dosen dalam jangka waktu ia mengajar.
  • Antara perguruan tinggi dan dosen harus berkomitmen bersama-sama untuk melaksanakan visi yang sudah ditetapkan pada perguruan tinggi tersebut.
  • Dosen harus melaksanakan kewajibannya sebagaimana yang sudah disepakati bersama dengan perguruan tinggi dan sebaliknya juga perguruan tinggi harus menjalankan kewajibannya sebagai timbal balik atas kewajiban dosen, sehingga dengan sendirinya masing-masing pihak dapat terpenuhi baik hak maupun kewajibannya.
  • Dosen dan perguruan tinggi harus berkotmitmen sebagai “juru kampanye” pendidikan moral dengan berperilaku yang baik dan sopan sehingga layak dijadikan panutan oleh mahasiswa.
  • Perguruan tinggi harus memberikan apresiasi/penghargaan atas prestasi yang dicapai seorang dosen selama mengajar, dan perguruan tinggipun harus memberikan sanksi yang tegas kepada dosen yang tidak menjalankan kewajibannya atau melakukan hal-hal yang melanggar peraturan yang berlaku baik secara lembaga maupun negara.

Komitmen yang ada harus tertuang dalam hitam diatas putih sehingga berkekuatan hukum tetap, dan kalau perlu tercatat di notaris.

4. Pengalaman

Dosen yang lebih berpengalaman tentunya akan lebih matang baik dari sisi ilmu pengetahuannya maupun teknik pengajarannya, sehingga ia mampu mentransfer ilmu yang dimilki kepada mahasiswa dengan baik. Pengalaman adalah guru yang terbaik, dan dengan pengalaman pula seorang dosen mampu menjaga sikap dan menyikapi tindak-tanduk mahasiswa yang terkadang nyeleneh dengan sabar dan pola pengasuhan yang penuh kasih sayang layaknya orang tua kepada anaknya.

5. Profesionalitas

Kembali lagi berbicara profesional, hal yang paling mendasar dalam kriteria keprofesionalan seorang dosen adalah cabang ilmu yang diajarkan harus sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki sang dosen, jangan sampai seorang dosen yang background-nya berpendidikan biologi diberi tugas untuk mengajarkan fisika atau ilmu lainnya yang tidak sesuai dengan disiplin ilmunya meskipun mungkin ia dirasa mampu untuk mengajarkan cabang ilmu lain, terkecuali kalau memang ia memiliki latar belakang disiplin ilmu lebih dari satu namun itu dirasa jarang.

Selain kesesuaian ilmu yang diajarkan, keprofesionalan juga harus disertai dengan ilmu pedagogik yang mumpuni dan disiplin, disiplin bisa dimulai dari ketepatan waktu dalam memulai dan menutup jam perkuliahan. Seorang dosen juga dituntut harus bisa memberikan keluangan waktu bagi mahasiswa untuk berkonsultasi terkait masalah perkuliahan dikampus.

6. Evaluasi

Untuk mengkaji dan menilai kinerja dan pola-pola pengajaran seorang dosen perguruan tinggi selain memberikan penilaian secara lembaga, perguruan tinggi juga dapat membuat poling, kuisioner, survey, jajak pendapat atau yang sejenis lainnya kepada mahasiswa agar mahasiswa memberikan penilaian kepada dosen karena mahasiswa adalah pihak yang lebih merasakan kinerja pengajaran para dosen. Dari evaluasi inilah perguruan tinggi harus memberikan reward atau penghargaan kepada dosen yang dinilai cukup berhasil dan sanksi minimal teguran bagi dosen yang kurang berhasil atau bahkan membuat kesalahan.

E. KERJASAMA

Untuk membentuk sebuah perguruan tinggi yang unggul disegala bidang diberbagai tingkatan dan kawasan harus menjalin banyak kerjasama dengan berbagai pihak untuk memudahkan pelaksanaan program-program yang direncanakan, kerjasama yang diikat dengan pihak lain tentunya harus memberikan keuntungan bagi keduabelah pihak agar kerjasama dapat terjalin erat dan berkelanjutan. Kerjasama harus dijalinan dengan berbagai pihak antara lain :

1. Pemerintah

Kerjasama dengan pemerintah adalah hal yang mutlak dan wajib hukumnya,

Penelitian dan pemugaran candi dikawasan UII adalah salah satu contoh bentuk kerjasama antara perguruan tinggi dengan pihak lain semisal pemerintah dan swasta.

Selain dengan Departemen Pendidikan Nasional kerjasama dengan pemerintah dapat dijalin dengan instansi-instanasi yang minimal memiliki keterkaitan dengan visi,  program dan konsentrasi ilmu yang diutamakan di perguruan tinggi tersebut. Sebagai contoh ;

  • Untuk sebuah perguruan tinggi yang konsen pada ilmu agama, maka pereratlah kerjasama denganDepartemen Agama beserta Dirjen-dirjen DAN Bimasnya,  MUI, DGI, PHDI, WALUBI dan lembaga pemerintah lainnya yang bertugas mengurusi masalah keagamaan.
  • Untuk sebuah perguruan tinggi yang konsen dibidang IT makan harus intenslah bekerja sama dengan Menkominfo.

Dan berbagai contoh lainnya yang saya rasa bisa digambarkan oleh kita sendiri-sendiri.

2. Swasta

Kerja sama dengan peihak swasta merupakan suatu keharusan juga memberikan ruang kepada lembaga dan mahaiswa dalam memajukan perguruan tinggi tersebut. Kerjasama dengan dunia swasta khususnya dunia usaha dapat dijalin dalam berbagai bentuk, antara lain :

  • Perguruan tinggi dan swasta dapat bekerjasama dibidang penelitian untuk mengembangkan dan menciptakan suatu karya yang akan memberikan manfaat bagi semua orang.
  • Kerjasama dapat juga dijalin sebagai tempat praktek bagi mahasiswa untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih nyata sebagai gambaran nyata yang diperoleh diperguruan tinggi, sehingga ketika kelak lulus sudah mampu dan siap untuk terjun langsung ke dunia kerja.
  • Swasta dapat membrikan bantuan beasiswa untuk mahasiswa yang dianggap kurang mampu atau berprestasi sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) di bidang pendidikan. Beasiswa yang dikucurkan lembaga swasta harus memberikan efek positif bagi pihak tersebut minimal ada ikatan kontrak jika kelak mahasiswa tersebut lulus, maka siswa tersebut dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang dimiliki diperusahaan yang telah memberinya bantuan modal kuliah.
  • Selain di bidang finansial, kerjasama juga bisa dijalin adanya bantuan peralatan (sarana) perkuliahan dengan imbal balik hak promosi bagi perusahaan yang menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi tersebut.

Dengan adanya kerjasama dengan pihak swasta akan memberikan peluang jaminan perkerjaan bagi lulusan perguruan tinggi tersebut, meskipun bagi saya sebetulnya orientasi lulusan sebuah perguruan tinggi idaman  seharusnya bukan lagi menciptakan calon pekerja, melainkan harus membentuk karakter lulusan yang memiliki keterampilan dan konsep-konsep untuk berwirausaha sehingga ia mampu menciptakan lapangan kerja minimal untuk dirinya sendiri dan maksimalnya tentunya buat orang banyak.

3. Antar Perguruan Tinggi

Sebagai sebuah lembaga pendidikan dilevel tinggi, perguruan tinggi harus membangun mitra dengan sesama perguruan tinggi baik dari dalam maupun luar negeri, kerjasama yang dijalin tentunya merupakan salah satu jalan adanya transpormasi perkembangan ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi yang telah lebih dulu maju kepada perguruan tinggi yang berusaha untuk maju. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam kerjasama antar pergurun tinggi yang dapat memberikan keuntungan baik bagi perguruan tinggi itu sendiri maupun untuk masyarakat luas,. Dua atau lebih perguruan tinggi dapat bekerjasama dalam hal pengembangan manajemen tinggi untuk meningkatkan pola-pola pendidikan tinggi yang lebih memberikan kompetensi diranah persaingan peradaban global, khusunya dibidang pendidikan.

Perguruan tinggi juga dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi lainnya dalam sebuah wadah asosiasi yang dibentuk demi kemajuan bersama, baik yang berbentuk keseluruhan, kesamaan konsentrasi ilmu yang diajarkan, status, maupun jurusan. Apa yang saya uraikan mengenai kerjasama ini sebetulnya sudah dapat dicontohkan dengan adanya Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTSI) sebagai wadah organisasi untuk semua perguruan tinggi yang swasta yang ada di Indoneisa, Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) yang menghimpun perguruan tinggi informatika dan komputer di seluruh Indonesia berusaha untuk menyelesaikan masalah dan tantangan yang dihadapi para anggotanya, dalam rangkaian pertemuan di antara para anggotanya yang dicetuskan melalui pemikiran, usulan, diskusi dan pembahasan serta berusaha untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, Asosiasi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (APTINU) untuk semua perguruan tinggi yang berbasis dibawah naungan Nahdlatul Ulama, Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) untuk semua perguruan tinggi yang konsesn di bidang farmasi.

Satu perguruan tinggi dan perguruan tinggi lainnya dapat bekerjasama dalam pertukaran mahasiswa ataupun dosen, Pertukaran tersebut dapat memberikan kesempatan baik bagi dosen maupun mahasiswa untuk mempelajari iklim pembelajaran di kampus baru sekaligus untuk mengenali kultur kehidupan baik di kampus maupun di lingkungan masyarakat sekitarnya. Dalam program pertukaran mahasiswa juga akan memberikan upaya pendidikan mandiri serta pemahaman hubungan kemanuasiaan dan lingkungan.

4. LSM dan Lembaga Lain.

Dengan berbagai macam perkembangan kehidupan global yang sering terjadi diluardugaan dengan berbagai polemiknya terkadang tidak jarang akan menimbulkan masalah baru yang cenderung memberikan dampak negatif, dengan munculnya berbagai polemik dan permasalahan yang begitu kompleks telah mendorong para penggiat “Global Monitoring” untuk membentuk sebuah wadah yang memberikan respon terhadap polemik tersebut, dan wadah-wadah itulah yang kemudian sering dikenal Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau yang secara internasional sering disebut dengan Non Govermnet Organization (NGO). Pada umumnya LSM-LSM banyak bergerak dibidang sosial, kemanusiaan dan lingkungan. Adanya kerjasama antara perguruan tinggi dan LSM akan memberikan kontribusi yang positif baik secara riset masalah-masalah yang terkait sosial, kemanusiaan dan lingkungan, maupun solutif untuk masalah-masalah tersebut.

Sebagai contoh, perguruan tinggi yang intens dan punya kepedulian dibidang lingkungan dapat melakukan kerjasama dengan Greenpeace atau WWF sebagai upaya untuk menjaga kelestarian alam, dan itu tentunya akan memiliki nilai eduaktif sekaligus aplikatif yang poitif atas ilmu yang dimiliki.

Kerjasama dengan LSM harus dicermati betul sebelum ada ikatan perjanjian, pasalnya saat ini banyak LSM-LSM bodong yang dalam artian bukan lagi sebagai lembaga swadaya karena pendanaan mereka terkadang disokong oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan diluar anggaran dasar LSM tersebut, terutama yang berkaitan dengan politik dan keamanan. Dengan adanya kehatian-kehatian dalam menjalin kerjasama tersebut, maka akan menghindari konsekuensi yang dapat memberikan penekanan diluar perjanjian kerjasama yang telah disepakati antara perguruan tinggi dan LSM.

5. Evaluasi

Kerjasama yang dijalin dengan berbagai pihak tentunya harus memiliki nilai kontribusi yang positif khususnya untuk perkembangan kampus, dan umumnya untuk kedua belah pihak atau lebih yang terikat dalam kerjasama tersebut. Untuk mengukur nilai-nilai keuntungan kerjasama tersebut maka harus diadakan evaluasi secara berkala sebagai barometer keberhasilan sebuah kerjasama, sekaligus untuk meningkatkan upaya kerjasama yang lebih intensif dan berkelanjutan.

Dalam mengevaluasi suatu ikatan kerjasama, perguruan tinggi harus membuat evaluasi internal terlebih dahulu di manajemen kampus. Dalam evaluasi semua unsur struktural kampus berhak menyampaikan pandangan dan penilaian atas kerjasama yang akan dievaluasi. Hasil evaluasi internal untuk selanjutnya kemudian dibawa sebagai bahan pada evaluasi bersama antara perguruan tinggi dengan pihak kedua, ketiga maupun lebih yang terikat dalam perjanjian kerjasama tersebut.

F. FASILITAS

Harus kita akui dengan jujur, bahwa fasilitas yang baik merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar ntuk setingkat perguruan tinggi yang berkategori idaman, hal ini bukan berarti bahwa perguruan tinggi yang biasa-biasa saja tidak perlu fasilitas yang baik. Fasilitas yang baik dan perguruan tinggi idaman adalah sebuah korelasi yang pasti berbanding lurus. Bagi saya, sebuah perguruan tinggi idaman standarnya memiliki fasilitas minimal sebagai berikut ;

1. Ruang Kuliah

Ruang kuliah harus memiliki kapasitas yang mampu memberikan ruang dan rasa nyaman bagi mahasiswanya, selain nyaman ruangan juga harus memberikan motivasi belajar bagi mahasiswa dan mengajar bagi dosen sehingga program perkuliahan menjadi terfokus dan konsentrasi, beberapa hal yang dapat memberikan efek positif dari sebuah ruangan perkuliahan adalah sebagai berikut ;

  • Ruangan tertutup dengan sedikit pencahayaan dari jendela sehingga pandangan mahasiswa ataupun dosen dalam perkuliahan tidak terpengaruh oleh kondisi diluar ruangan.
  • Jumlah mahasiswa harus dibatasi maksimum 24 orang dalam satu ruangan, hal ini untuk menjaga kondusifitas proses perkuliahan, selain itu juga memudahkan dosen dalam mentransfer ilmu pengetahuan sehingga lebih cepat dan semua tahapan pengajaran dapat terselesaikan sesuai rencana kurikulum.
  • Ruang kuliah menggunakan sistem Rolling Class (Ruang berjalan), artinya semua mata kuliah berdasarkan semua tingkatan memiliki ruang pengajaran tersendiri namun mahasiswa tetap memiliki ruangan sesuai tingkatannya, hanya itu bersifat homebase. Maksud dari rolling class yaitu untuk mengikuti proses perkuliahan mahasiswa belajar diruang mata kuliah. Misalnya begini, ketika jadwalnya mata kuliah Bahasa Inggris, maka masuklah mahasiswa ke ruangan Bahasa Inggris berdasarkan tingkatannya (misal ; semester), setelah proses perkuliahan selesai maka keluarlah mahasiswa dari ruang bahasa inggris dan masuk ke ruang berikutnya sesuai jadwal mata kuliah. Dengan sisitem ini, secara teknis dosen dapat mengkonsep ruangan sesuai keinginan mereka dengan catatan dapat memberikan nilai edukasi tambahan sesuai mata kuliah yang diajarkannya, selain itu rolling class juga dapat terintegrasi sebagai laboratorium atau ruangan praktek. Secara filosofis, disini tergambarkan bukan dosen yang butuh mahasiswa yang harus mendatangi setiap ruangan kuliah, melainkan mahasiswa yang butuh dosen (haus akan ilmu) sehingga ia harus mendatangi ruangan mata kuliah.
  • Setiap ruangan kulih memiliki sistem pengatur suhu ruangan (Air Conditioner) serta multimedia yang baik, seperti proyektor, audiovisual, dan kamera CCTV untuk memantau proses perkuliahan dan segala kemungkinan yang terjadi diruangan kuliah.
  • Ruang homebase mahasiswa dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti satu kursi satu komputer sebagai penunjang pembelajaran mahasiswa, selain itu juga tersedia locker untuk menyimpan perlengkapan kuliah. Itu semua harus tetap dalam pengawasan terutama dari dosen pembimbing dengan dibantu sistem CCTV.

2. Laboratorium

Sebuah perguruan tinggi terbaik yang sudah pasti juga menjadi idaman, tentunya akan memiliki ruangan laboratorium yang baik juga. Laboratorium yang baik tidak hanya dapat diliha dari lengkapnya peralatan dan bahan penelitian serta tidak memperhatikan masalah keteletian analisa saja, sebuah laboratorium juga harus memperhatikan proses pengolahan dan pembuangan limbah sisa penelitian khusunya untuk penelitian dibidang kimia.

Untuk  sebuah perguruan tinggi idaman, bagi saya semua mata kuliah harus memiliki ruangan laboratorium tersendiri, hal ini untuk menunjang kelancaran proses perkuliahan sehingga tidak terjadi benturan penggunaan laboratorium. Laboratorium tidak hanya berpaku pada ruangan saja, oleh karena itu perguruan tinggi juga harus mempunya ruang hijau terbuka sebagai laboratorium alami yang dilengkapi dengan berbagai macam jenis tumbuhan dan makhluk hidup lainnya.

Pengelolaan laboratorium tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelolla semata, melainkan semua pihak harus bertanggung jawab dalammenjaga dan merawatnya.

3. Olahraga

Suatu waktu saya pernah membayangkan sebuah perguruan tinggi yang megah dan semua fasilitas serta kebutuhannya terintregasi dalam satu kawasan, dan untuk fasilitas olahraga saya membayangkan adanya sebuah stadion sepakbola. bayangan itu ternyata kini menjadi bahan masukan bagi saya ketika harus mendefinisikan sebuah perguruan tinggi idaman.

Stadion adalah sarana penunjang olahraga yang multi fungsi, dimana berbagai cabang olahraga bisa menggunakannya. Memang idealnya sebuah perguruan tinggi favorit Indonesia harus memiliki Sport Center seperti perguruan tinggi di negara-negara lain, namun saya tidak ingin terlalu muluk yang penting ada dan harus efisien.

Selain stadion sepertinya sebuah perguruan tinggi idaman  juga harus mempunyai Gelanggang Olah Raga (GOR) untuk menunjang kegiatan olahraga indoor semisal Basket, Bola Voli, Badminton, Anggar, dan lain sebagainya. Penggunaan GOR tidak semata-mata untuk olahraga saja, GOR juga dapat dijadikan sebagai aula kampus yang bisa digunakan untuk kegiatan yang bersifat masal seperti wisuda dan even-even kemahasiswaan.

4. Keagamaan

Sebagai pusat pembinaan moral, masjid harus ada dan dimakmurkan oleh semua warga kampus

Agama sebagai salah satu faktor pembentuk karakter manusia untuk menjadi makhluk beradab harus diberikan perhatian khusus terutama di sebuah perguruan tinggi sebagai lembaga yang memberikan pengasuhan pendidikan. Untuk menunjang proses pemupukan keagamaan dalam jati diri mahasiswa khsusunya dan warga kampus umumnya maka harus ditunjang dengan fasilitas / sarana yang memadai. Saya sebagai seorang muslim tentunya fasilitas keagamaan yang harus ada diperguruan tinggi adalah mesjid, mesjid yang ada harus mampu menampung semua warga kampus untuk melaksanakan shalat berjamaah, selain itu masjid juga harus menjadi pusat kegiatan dakwah kampus.

Selain masjid sarana-sara kegiatan penunjang keagamaan juga dapat dilengkapi dengan ruangan khusus kegiatan kemahasiswaan yang fokus dikegiatan keagamaan dan dakwah.

Dengan adanya sarana keagamaan akan memberikan wadah pendekatan antara manusia dan penciptanya serta akan memberikan suasana religius yang  memberikan kesan damai dan tenteram, lingkungan yang religius juga akan memberikan filter bagi warga kampus dalam bertindak dan berbuat sehingga jauh lebih hati-hati dengan penuh kesopanan dan kesusilaan.

5. Kemahasiswaan

Semua bentuk kegiatan yang ada diperguruan tinggi, menurut pendapat saya harus dapat difasilitasi dengan baik oleh pihak perguruan tinggi. wadah-wadah kegiatan kemahasiswaan yang terbentuk dalam berbagai organisasi yang berada dibawah naungan Badan Eksekuitf  Mahasiswa minimal harus memiliki kantor sekretariat sebagai basecamp organisasi tersebut, selain sekretariat juga harus diberikan sarana-sarana lainnya yang akan menunjang setiap keberlangsungan kegiatan kemahasiswaan, baik dilingkungan maupun diluar kampus.

Fasilitas yang sudah diberikan oleh pihak perguruan tinggi tentunya juga harus dapat dipertanggungjawabkan dan dirawat oleh mahasiswa dengan penuh kesadaran betapa berharganya fasilitas yang sudah diberikan yang belum tentu dimiliki oleh perguruan tinggi lain.

6. Sanitasi

Sistem sanitasi yang baik adalah simbol dari sehatnya lingkungan dan penghuninya, demikian halnya dengan sebuah perguruan tinggi. Sistem sanitasi di sebuah perguruan tinggi bagi saya tidak mesti mewah, cukup modern dalam hal sistem namun sederhana dalam bentuknya. Beberapa indikator terpenting dalam sistem sanitasi diperguruan tinggi adalah sebagai berikut ;

  • Air bersih harus selalu tersedia baik itu yang bersumber dari air tanah maupun PDAM.
  • Adanya sistem pengolahan limbah air sisa pembuangan yang nantinya tidak akan memberikan dampak buruk bagi masyarakat luas dan sekitar.
  • Toilet yang dibuat dengan letak posisi yang strategis, mudah dijangkau dan gampang diketahui oleh semua orang. Toilet-toilet tersebut harus selalu dalam keadaan bersih dan nyaman yang tentunya menjadi tanggungjawab semua pihak dalam menjaga kebersihannya.
  • Sistem saluran air yang baik dan lancar sehingga kampus dapat terhindar dari genangan-genangan air yang akan menimbulkan penyakit dengan dijadikannya genangan-genangan air sebagai sarang bertelur oleh nyamuk.
  • Jika memungkinkan, dibuat sistem pengolahan limbah kotoran buang hajat manusia untuk hal yang lebih bermanfaat seperti biogas dan pupuk organik.

7. Parkir

Idealnya sebuah perguruan tinggi yang baik memiliki lahan parkir yang cukup luas dan mampu menampung semua kendaraan warga kampus, selain itu parkir juga harus memperhatikan nilai-nilai kemanan bagi kendaran yang diparkir. (Sekaligus sebagai bahan masukan), sistem parkir dapat dikembangkan dengan mengaplikasi teknologi komputer salah satunya dengan Parking Card yang berbasis magnetik maupun barcode, dengan adanya sistem ini semua kendaraan akan lebih terkendali dan tidak keluar masuk dengan seenaknya yang dapat membahayakan keamanan parkir.

Selain itu pintu area parkir pun harus dibuat lebih dari satu namun tetap tidak ada celah selain daripada pintu parkir itu sendiri sehingga tidak terjadi antrian yang memacetkan terutama dipagi hari dan disaat proses perkuliahan selesai. Untuk lebih menjaga keamanan, pihak perguruan tinggi juga dapat memasang kamera CCTV untuk merekam semua kejadian di lahan parkir, kamera CCTV harus terletak ditempat yang strategis yang dapat menjangkau area parkir yang lebih luas dan tidak terhalangi oleh benda apapun.

Sarana parkir juga harus tersedia untuk berbagai jenis kendaraan, baik mobil, motor maupun sepeda. Untuk menjaga kondisi kendaraan yang diparkir maka sarana parkir harus dibuat tertutup sehingga kendaraan dapat terhindar dari terik panas mata hari dan siraman hujan, atau paling tidak lahan parkir harus teduh dengan ditanamnya berbagai pohon yang berdaun lebat.

8. Area Hijau

Seiring dengan semakin banyaknya kerusakan lingkungan dan semakin gencarnya upaya menanggulangi hal tersebut, maka perguruan tinggi sebagai sebuah lembaga pendidikan harus memberikan wawasan pelestarian lingkungan yang lebih nyata, yaitu dengan tersedia lahan terbuka hijau di area kampus. Selain memberikan konsep pendidikan dan wawasan akan pentingnya melestarikan lingkungan hijau, ruang area hijau juga dapat memberikan efek kesegaran dan kenyaman psiokologis civitas kampus yang setiap hari bergelut dengan akal dan pikiran yang penuh dengan kepenatan dan kejenuhan.

Dilahan hijau tersebut dapat ditanami dengan berbagai tanaman yang dengan sendirinya akan menjadi laboratorium terbuka yang dapat dijadikan sebagai lahan penelitian. Untuk lebih memberikan rasa nyaman mahasiswa dan dosen, maka tidak ada salahnya kalau ruang hijau terbuka tersebut juga dilengkapi dengan fasilitas belajar dan hotspot area namun tidak merusak kondisi area tersebut baik dari segi lingkungan maupun pemandangan.

9. Perpustakaan

Saya berpandangan bahwa salah satu indikator kelayakan sebuah perguruan tinggi dijadikan idaman adalah adanya ruang perpustakaan yang luas ruangannya, lengkap koleksi bukunya, serta baik pengelolaannya dan saya rasa banyak orang yang berpendapat sama. Menurut saya perpustakaan sebuah perguruan tinggi standardnya sebagai berikut ;

Salah satu ruang perpustakaan di sebuah universitas unggulan di Inggris

Perpustakaan dilengkapi dengan perangkat komputer dan jaringan koneksi internet sehingga perputsakaan tidak hanya bersifat manual tetapi juga digital sehinggi segala kekurangan referensi yang ada pada perpustakaan dapat dilengkapi melalui layanan digital, selain itu dalam layanan digital tersebut juga tersedia daftar menu buku yang dapat dipinjam atau dibaca oleh mahasiswa lengkap dengan kode lokasi tempat buku tersebut.

Dengan adanya sistem perpustakaan digital, pengelola juga dapat membuat kartu member bagi mahasiswa (bisa terintregasi pada karyu tanda mahasiswa), sehingga arus pergerakan buku dapat tercatat dengan baik pada database komputer.

Area perpustakaan cukup luas dengan berbagai koleksi yang lengkap, perpustakaan juga tidak hanya terpaku didalam ruangan. Perpustakaan dapat melakukan inovasi dengan membuat ruang baca terbuka semisal kafe sehingga mahasiswa dapat membaca buku dengan nyaman dan rileks. Selain itu juga tersedia ruang baca khusus privasi dan diskusi sehingga untuk yang ingin membaca buku dengan tenang tidak terganggu oleh suara-suara riuh diskusi.

10. Kesehatan

Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat , peribahasa tersebut memang tidak semuanya betul tapi  peribahasa tersebut ada

benarnya juga. Mahasiswa sebagai generasi muda yang punya semangat dan motiviasi tinggi harus memiliki fisik dan kesehatan yang prima untuk menunjang setiap aktivitasnya baik didalam perkuliahan m

aupun diluaran. Berkaitan dengan kesehatan mahasiswa tersebut, maka pihak perguruan tinggi harus memberikan pelayanan bagi mahasiswa dalam hal kesehatan, beberapa pelayanan yang dapat diberikan perguruan tinggi kepada mahasiswa antara lain :

  • Idealnya sebuah perguruan tinggi idaman memiliki afiliasi langsungdengan rumah sakit yang berada dibawahnaungan satu lembaga atau yayasan, namun jika itu terlalu sulit sebuah apotik atau klinik bagi saya suah cukup untuk menjadi bagian dari satu kriteria sebuah perguruan tinggi idaman. Dengan adanya tempat pelayan kesehatan yang terpadu baik dalam satu lembaga maupun kawasan kampus akan memberikan kemudahan bagi mahasiswa khusunya dan semua warga kampus umumnya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang mudah, murah namun berkualitas. Dengan adanya tempat pelayanan kesehatan di kampus akan mempercepat pertolongan medis terhadap semua elemen kampus yang membutuhkannya.
  • Selain tempat pelayanan kesehatan, sebuah perguruan tinggi idaman juga harus memiliki minimal satu kendaraan ambulan untuk memberikan bantuan pertolongan darurat yang cepat setelah tempat pelayanan kesehatan kampus tidak memungkinan lagi untuk memberikan bantuan medis. Dengan adanya kendaraan ambulan, maka segala sesuatu yang tidak diinginkan yang berkaitan dengan kesehatan maka akan mendapatkan respon yang cepat dan tentunya lagi tidak akan terlalu membebankan kepada yang membutuhkannya terutama dari segi finansial.
  • Dalam memberikan jaminan program pembiayaan kesehatan, pihak perguruan tinggi harus melakukan kerjasama dengan penyedia jasa asuransi kesehatan, kecelakaan, maupun kematian. Hal ini sebagai upaya fasilitator lembaga kepada mahasiswa untuk memberikan kemudahan dalam pembiayaan pelayanan kesehatan dengan premi murah namun dengan jumlah klaim yang mencukupi, selain itu juga perguruan tinggi harus membantu mahasiswa pada saat mengajukan klaim.
  • Perguruan tinggi harus melakukan tes urin dan darah secara berkala untuk memberikan pengawasan baik secara moral maupun medis terhadap bahaya narkoba, HIV serta AIDS. Dalam melakukan tes sebaiknya dilakukan secara mendadak tanpa ada pemberitahguan terlebih dahulu dan kalau perlu dilakukan dutempat yang tertutup yang tidak memungkinkan untuk kabur bagi semua orang yang akan di tes.
  • Kantin, ya saya memasukan kantin pada kategori ini karena kantin tidak hanya dilihat dari murah dan menguntungkannya saja, namun kantin juga harus mampu menyediakan makanan-makanan yang kualitasnya terjamin dan mampu memberikan kontribusi positif dalam menunjang kesehatan warga kampus.

Saya yakin masih banyak hal yang dapat menjadi aspek dibidang kesehatan pada  seb

uah perguruan tinggi idaman, namun baru itu yang bisa saya tuangkan.

11. Aula

Aula pada sebuah perguruan tinggi saya rasa sangat perlu dan harus untuk menunjang kegiatan diperguruan tinggi yang bersifat massal atau melibatkan orang banyak, terutama pada acara-acara seperti wisuda, perpisahan, SPMB, pameran dan lain sebaginya. Bagi saya sebuah aula tidak mesti berdiri mutlak sebagai aula, aula dapat diintregasikan dengan Gelanggang Olahraga (GOR) sebagaimana yang saya uraikan diatas pada fasilitas olahraga, sehingga dalam satu bangunan memiliki dua fungsi pokok yaitu sebagai aula sekaligus GOR.

Bangunan tersebut harus dibangun dengan memperhatikan kapasitas yang harus mampu menampung civitas perguruan tinggi tersebut, ventilasi udara yang sehat dan mampu meminimalisir penggunaan AC yang tentunya akan mengurangi pula pemakaian beban listrik.

12. Evaluasi

Semua fasilitas yang ada diperguruan tinggi haru diperiksa atau diaudit secara berkala untuk memeriksa kelayakan dan kelengkapan fasilitas yang dimiliki. Semua fasilitas yang dimiliki harus tercatat sebagai inventarsi kampus dan jika diperlukan dibuat badan khusu yang mengurusi sarana dan prasarana baik dalam pengadaan, perawatan, pemeliharaan sekaligus pengawasan yang kemudian bertanggungjawab langsung kepada rektor.

Evaluasi diperlukan sebagai bahan acuan untuk lebihmeningkatkan fasilitas yang dimiliki, evaluasipun tidak hanya berpatokan pada keadaan internal kampus namun juga harus dibandingnkan.

G. BEASISWA & BIAYA

1. Beasiswa

Saya yakin banyak yang sependapat, bahwa beasiswa harus ada disetiap jenjang pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi. Semakin banyak program beasiswa maka akan semakin memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menggali ilmu lebih dalam lagi. Beasiswa terdiri dari beberapa jenis tergentung kesepakatan penyedianya, ada yang bersifat ikatan dina/kerja, penghargaan atas prestasi, dan bantuan untuk yang tidak mampu.

Pemberian beasiswa harus menggunakan skala prioritas terhadap penerimanya dengan berbagai kriteri yang betul-betul memenuhi syarat dan dapat dipertanggungjawabkan. Banyak program beasiswa yang dapat diselenggarakan oleh perguruan tinggi asalakan mau bekerjasama dengan pihak-pihak penyedia program beasiswa. Dengan adanya beasiswa (terutama beasiswa prestasi) akan memacu semangat mahasiswa untuk lebih berprestasi lagi terutama dibidang ilmu yang ia pelajar idan kuasai, karean beasiswa merupakan apresiasi yang jauh lebih positif ketimbang hanya kata-kata “terimakasih” dan “selamat”.

2. Biaya

Biaya sebagai “bahan bakar” untuk terselenggaranya proses pendidikan termasuk di perguruan tinggi sudah pasti menjadi bahan perhatian pokok bagi saya untuk memilih sebuah perguruan tinggi yang menjadi idaman saya, hasratnya memang mengidamkan biaya yang gratis tapi saya pikir hal itu sangat sulit untuk dilaksanakan. Persoalan biaya memang persoalan pelik yang menjadi tanggung jawab kita bersama agar proses pendidikan dapat berjalan dengan lancar.

Kata murah sudah pasti pilihan utama soal biaya, murah disini bukan berarti murahan, kata murah disni bukan berarti harus merugikan perguruan tinggi, oleh karena itu untuk mewujudkan biaya murah harus ada program-program yang menjadi solusi agar biayanya bisa murah. Kata murah memang cenderung relatif sesuai dengan tingkat kemampuan finansial setiap orang, murah bagi saya mungkin lebih murah lagi bagi yang lain, mahal bagi saya mungkin murah bagi yang lain. Sebagai masukan mungkin perbedaan kemampuan finansial ini bisa dijadikan sebagai bahan solusi, yaitu dengan diadakannya program “subsidi silang” sebagaimana yang telah saya uraikan diatas, subsidi silang disini artinya mengadakan pundi-pundi sosial bagi mahasiswa yang merasa mampu  yang kemudian akan disalurkan bagi mahasiswa yang dirasa kurang mampu.

H. KURIKULUM

Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni telah memacu berbagai kalangan untuk berlomba-berlomba sampai pada garis terdepan, perguruan tinggi sebagai salah satu pionir kemajuan iptek dan seni-pun harus siap untuk bersaing sehingga dengan demikian diperlukan sebuah komponen yang baik dan prima dan salah satunya adalah kurikulum.

Kurikulum sebagai sistem pengendali pelaksanaan program pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik harus disusun dan diolah sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kemampuan perguruan tinggi, namun jiga harus memberkan nilai motivasi.  Beberapa hal yang menjadi faktor penilaian terhadap sebuah kurikulum menurut saya antara lain ;

1. Standarisasi

Kurikulum yang dipakai harus memiliki nilai standar internasional, ya internasional kenapa tidak bagi sebuah perguruan tinggi yang dijadikan idaman ?. Kalu kita bersungguh dalam membangun SDM dinegara kita yang ingin melebihi tingkat SDM negara lain atau minimal setara maka kita harus menetapkan  sebuah standar kurikulm yang minimal juga setara dengan perguruan tinggi yang memiliki reputasi baik. Meskipun bersatndar internasional, kurikulum tidak boleh terlepas dari nilai-nilai adat istiadat dan budaya bangsa yang memiliki nilai positif, kurikulum harus dikembangkan secara sejalan dengan visi dan misi yang disepakati bersama dan mengacu kepada sistem pendidikan nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

2. Implementasi

Sistem kurikulum yang telah dibuat harus dikembangkan dengan cara penerapan, dalam penerapannya harus betul-betul disosialisasikan dan dilakasanakan berdasarkan petunjuk teknis dan pelaksanaan yang telah dibuat. Kurikulum harus terus dikawal dalam pelaksanaanya agar rencana pembelajaran terus dapat berjalan dengan baik. Dalam implementasinya kurikulum yang dikembangkan harus memiliki sifat sebagai acuan dasar dan penilaian kelulusan serta lentur tehadap perubahan dimasa yang akan datang. Dalam impementasinya, setiap mata kuliah harus mampu  menjabarkan kompetensi mata kuliah yang diajarkan sehingga memiliki nilai kompetensi dan kualitas. Selain itu kurikulum juga harus memiliki nilai konsekuensi bagi semua subjeknya baik secara moral mapun hukum.

3. Korelasi Ekstrakurikuler dengan Intrakurikuler

Olahraga adalah salah kegiatan kemahasiswaan yang dapat memeberikan kontribusi positif terhadap program pokok pembelejaran jika dikelola dengan baik.

Kurikulum yang dikembangkan harus membentuk hubungan yang baik antara kegiatan ekstrakurikuler dengan program-program pokok perkuliahan. Artinya setiap kegiatan kemahasiswaan yang ada diperguruan tinggi harus mejadi penopang penigkatan pembelajaran setiap mata kuliah. Contoh kegiatan kemahasiswaan yang fokus pada keagamaan maka akan memberikan kontribusi positif pada pendidikan mata kuliah keagamaan, dan berbagai contoh lainnya. Dengan adanya hubungan positif antara program ekstar dengan intra akan lebih meningkatkan wawasan dan pengetahuan setiap mahasiswa berdasarkan setiap mata kuliah yang dipelajarai, atau jika perlu setiap mata kuliah memiliki organisasi kegiatan kemahasiswaan.

4. Evaluasi

Sebuah sistem kurikulum harus dikaji ulang secara berkala untuk memberikan penyesuaian dengan perkembangan globalisasi, oleh karen itu maka diberlakukanlah evaluasi. Pada jenjang pendidikan tinggi (perguruan tinggi), evaluasi sebuah kurikulum bukan hanya menjadi rekomendasi perguruan tinggi yang bersangkutan semata, melainkan juga dapat dijadikan bahan rujukan kepada pemerintah misalnya Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi atau Departemen Pendidikan Nasional dan seandainya evaluasi yang dilakukan memiliki nilai positif maka bukan tidak mungkin sistem tersebut akan dikembangkan secara masal dan global. wow…. itu artinya perguruan tinggi tersebut menjadi pelopor sistem kurikulum yang baik !.

I. DINAMIKA

Suasana yang tenteram dan nyaman sudah pasti menjadi idaman kita semua untuk sebuah perguruan tinggi yang ideal. susasana yang baik akan memberikan ruang konsentrasi bagi semua mahasiswa yang  betul-betul ingin mecari ilmu pengetahuan dan pengalaman. Suasana tersebut tidak hanya dilihat dari lingkungan alam sekita kampus saja melainkan juga didalam kampus dan dalam proses perkuliahan.

1. Harmoniasi

Harmoniasi atau yang lebih dikenal dengan keseimbangan mutlak ada untuk menciptakan suasana kehidupan kampus yang tenteram dan nyaman. Antara mahasiswa dan dosen harus berada pada porsi dan posisinya masing, dosen mendidik mahasiswa dengan penuh keikhlasan, pengabdian dan kasih sayang demikian juga halnya mahasiswa harus menempatkan dosen sebagai sosok seorang yang mulia yang harus dihormati, nah dengan demikian antara dosen dan mahasiswa ada keseimbangan sehingga tidak akan terjadi mis perseption. Harmonisasi juga harus nampak dalam aspek kehidupan lainnya, harus ditekankan secara masal bahwa yang terpenting dari semua harmonisasi adalah keseimbangan antara porsi diri untuk kehidupan dunia dan porsi diri untuk kehidupan akhirat terutama bagi seorang muslim.

2. Displin

Salah satu indikator dinamika kehidupan kampus yang sehat adalah disiplin, artinya semua pihak harus taat terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku khususnya yang ditetapkan pada perguruan tinggi umumnya terhadap hukum negara , hukum agama dan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Untuk menegakan nilai-nilai kedisiplinan yang berkaitan erat dengan moralitas maka harus diterpkan konsekuensi hukum yang betul-betul dilaksanakan dan memiliki efek jera. Dengan adanya kesadaran disiplin pada diri setiap civitas kampus, maka akan melahirkan kejujuran dan rasa tanggung jawab yang tinggi minimla terhadap dirinya sendiri.

J. PRESTASI

Saya yakin, kita sering menilai kualitas sebuah perguruan tinggi dari sudut pandang prestasinya. Hal ini menurut saya sudah cukup tepat, karena menurut saya prestasi yang dicapai sebuah perguruan tinggi adalah efek dari sebuah sistem pendidikan  dan pengajaran yang berlangsung diperguruan tinggi tersebut.

1. Hakikat Prestasi Perguruan Tinggi (Lembaga Pendidikan)

Prestasi  tidak hanya diukur dari banyaknya trofi dan sertifikat sebagai bukti pengakuan atas raihan predikat yang dicapai,  prestasi akademik harus diukur dari awal pembuatan rencana pembuatan program pembelajaran dan kurikulum yang diterapkan hingga ke proses penerapannya. Harus kita pahami bersama bahwa, sebuah lembaga pendidikan unggulan (demikian halnya dengan perguruan tinggi) bukanlah sekedar sebuah lembaga pendidikan yang memiliki segudang predikat multijuara, peserta didinya dipilih dari tingkat kecerdasan tertinggi dan berkelakuan yang sangat baik, dan untuk masuk ke lembaga pendidikan tersebutpun harus melewati berbagai macam penyeleksian. Bagi saya, yang seperti itu sama sekali bukan sebuah prestasi unggulan bagi sebuah perguruan tinggi.

Lembaga pendidikan atau perguruan tinggi yang hebat adalah yang mampu menghijrahkan manusia dari kekurang tahuan menjadi manusia yang cerdas, dari yang kurang beradab menjadi yang bermoral dan berbudaya positif, dari yang nakal menjadi  yang baik, dari cue’k menjadi yang peduli, dari yang semrawut menjadi yang disiplin. perguruan tinggi tersebut tidak lagi mempertimbangkan masa lalu (kekurangan) calaon peserta didiknya, artinya tidak ada diskriminasi terhadap yang kurang pandai, tidak ada pengecualian atas kelakuan. Semua manusia punya hak untuk berubah menjadi lebih baik, dan disinilah sebuah perguruan tinggi dituntut untuk merubah peradaban, jika perguruan tinggi tersebut tidak sanggup atau tidak mau maka perguruan tinggi tersebut telah gagal untuk membentuk diri sebagai lembaga pendidikan, dan jika perguruan tinggi tersebut berhasil dan mau mendidik semua kalangan dalam kondisi apapun itu artinya perguruan tinggi tersebut betul-betul sebuah lembaga pendidikan dan layak disebut berprestasi unggulan.

2. Apresiasi

Sebuah karya, baik itu dalam bentuk dimensi maupun dalam bentuk perasaan harus mendapatkan pengakuan sebagai sebuah manifestasi kemampuan manusia dalam memberdayakan dirinya. Karya, sekecil apapun ukurannya, sebesar apapun luasnya adalah sebuah prestasi yang dicapai yang harus mendapatkan penghargaan. Penghargaan yang diberikan sejatinya akan terus memotivasi siapapun yang mendapatkan penghargaan tersebut untuk lebih berprestasi lagi jauh melampau atas apa yang telah ia capai. Apresiasi inilah yang kemudian akan memberikan identitas prestasi yang dicapai sebuah perguruan tinggi.

3. Evaluasi

Sebuah prestasi yang dicapai tidak boleh membuat serta merta sebuah perguruan tinggi larut dalam sebuah kebahagiaan, harus kita sadari bahwa ketika kita larut maka perguruan tinggi yang lain sudah memulai strategi baru untuk mampu mengungguli kita. Oleh karena itu evaluasi harus selalu ada dalam setiap rencana dan kegiatan. Kita koreksi kembali, apakah prestasi yang dicapai sudah sesuai dengan target yang dipatok ?, apakah prestasi yang dicapai sudah jauh lebih baik dari bangsa lain ?. Ketika kita sudah mencapai sebuah prestasi maka kita harus langsung mengusung strategi baru yang jauh akan lebih meningkatkan prestasi kita.

K. ALUMNI

Ada apa dengan alumni ?, hemm……… mari kita ulas bersama mengenai keterkaitannya dengan konteks perguruan tinggi idaman.

Ketika satu generasi angkatan peserta didik lulus dari sebuah perguruan tinggi, itu bukan berarti langsung putus hubungan dengan perguruan tinggi (dengan nyamuk sih gak’ apa-apa), oleh karena itu dalam sebuah ikatan moral setiap lembaga pendidikan (termasuk perguruan tinggi) tidak pernah dikenal istilah mantan dosenku, mantan muridku, mantan guruku, mantan mahasiswaku, bekas kampusku, dan kata-kata pembekasan lainnya (yang seolah-olah tidak ada keterkaitan lagi). Setelah mahasiswa lulus, hubungan harus tetap ada sebagai bentuk tanggung jawab perguruan tinggi kepada alumnus, dan bentuk kecintaan serta penghormatan alumnus kepada almamater.

1. Ikatan Alumni

Untuk tetap mengeratkan hubungan yang harmonis antara alumni dan almamater, maka harus dibentuk sebuah wadah yang tidak hanya sah dimata perguruan tinggi, namun juga sah dimata hukum. Wadah inilah yang disebut dengan ikatan alaumni, ikatan alumni dibentuk dengan harapan dapat memberikan ikatan hubungan yang “simbiosis mutualisme” antara perguruan tinggi dengan alumninya. Ikatan alumni dapat menjadi partner utama selain pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi lain, ikatan alumni yang dibentuk harus mampu menjadi jembatan penghubung antara alumni dengan almamater.

2. Penyaluran Kerja atau Wirausaha

Sebagai tanggung jawab moril, sebuah perguruan tinggi yang disebut idaman, bagi saya ia tidak hanya bertanggung jawab dalam proses pengajaran saja namun juga harus mampu menyalurkan lulusannya kedunia kerja sebagai bentuk kepeduliaanya terhadap mahasiswa, penyaluran ke dunia kerja pada dasarnya bmenurut saya adalah pilihan terkahir dalam pengembangan karir lulusannya karena, seharusnya perguruan tinggi tidak lagi hanya mengkonsep peserta didiknya untuk siap terjun ke dunia kerja, melainkan harus dikonesp untuk siap membuka lapangan kerja atau wirausaha. Kita tahu betul bahwa tingginya angka pengangguran dinegara ini lebih banyak disebabkan karena sebagian besar masyarakat kita cenderung banyak mencari lowongan pekerjaan dan mereka tidak mampu untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri yang minimal untuk dirinya karena , tidak ada kemampuan baik dari segi ilmu maupun dana.

Nah, disinilah peran perguruan tinggi masih sangat dibutuhkan dalam membantu pengurangan pengangguran dinegara ini, minimal untuk alumninya sendiri. Perguruan tinggi idaman saya harus mampu merubah jiwa bangsa yang tadinya mencari-cari investor kemudian menjadi bangsa yang mencari-cari lahan untuk investasi.

L. AKREDITASI

Akreditasi adalah sesuatu yang harus ada untuk sebuah perguruan tinggi idaman

Pada dasarnya akreditasi dapat dicapai jika perguruan tinggi tersebut unggul dari segala bidang baik manajemen, kurikulum, fasilitas, kualitas pengajar, maupun prestasi. Akreditasi adalah puncak pengakuan dari keberhasilan sebuah perguruan tinggi, dari akreditasi inilah mutu sebuah perguruan tinggi memiliki standar secara nasional, bagi saya, sebuah perguruan tinggi idaman harus memiliki nilai akreditasi A, dan saya rasa itu cukup wajar untuk sekelas “idaman”, kalaupun itu tidak terpenuhi saya masih punya toleransi, ya minimal perguruan tinggi tersebut hasrus betul-betul punya niatan dan usaha keras untuk mencapai akredtiasi A.

Harus diningat betul bahwa, ketika akreditasi telah dicapai maka akreditasi tersebut harus dijaga konsistensiny. Artinya, akreditasi tersebut bukan berarti prestasi mutlak, akreditasi hanyalah sebuah pengakuan mutu yang sewaktu-waktu bisa berubah atau menurun pengakuan kualitasnya. Akreditasi yang telah dicapai harus lebih ditingkatkan lagi, dari yang tadinya hanya berstandarkan BAN-PT mampu meningkatkan diri menjadi berstandar Akreditasi Intrenasional AUN- QA.

M. EVALUASI

Dari sekian banyak indikator kelayakan sebuah perguruan tinggi menjadi idaman, ada satu indikator lagi yang tidak boleh ditiadakan yaitu, evaluasi. Mungkin pembaca telah begitu banyak menemukan sub-indikator dari rangkaian tulisan diatas yaitu, evaluasi. Distiap strategi, rencana, kegiatan, dan hasil, sitilah evaluasi harus ada. Dengan evaluasi akan ada penilain secara titik balik terhadap semua proses yang telah dilewati untuk mencari cara baru agar hasil berikutnya jauh lebih baik, dan agar evaluasi dapat betul-betul dilaksanakan maka harus ada proses monitoring atau pengawasan selama sistem bekerja, nah hasil monitoring inilah yang kemuidan dibawa kemeja evaluasi.

Evaluasi yang dimaksud disini adalah evaluasi yang bersifat menyeluruh setelah melakukan monitoring secara komprehensif, dilakukan secara berkala atau periodikal, dan melibatkan semua unsur atau perwakilan unsur.

Evaluasi kembali, sudahkah apa yang dicapai sesuai dengan yang direncanakan ?, sudah adakah rencana untuk selanjutnya ?.

PENUTUP

Saya betul-betul mengucapkan rasa terimakasih yang sebesarnya kepada Universitas Islam Indonesia yang dengan penuh semangat dan harapan telah menyelenggarakan lomba blog UII 2010, tidak lupa pula saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah turut membantu dalam penulisan artikel ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, kepada sumber-sumber referensi yang telah dengan senang hati membagikan pencerhannya kepada semua umat semoga Allah SWT membalas kebaikan anda semua dengan rahmat dan hidayahnya.

Melalui penulisan artikel ini, banyak harapan yang saya idamkan (tidak hanya perguruan tingginya saja yang diamkan), terlepas menang atau tidak dalam lombanya harapan saya semoga di negeri ini betul-betul terwujud sebuah (atau bahkan lebih) perguruan tinggi yang menjadi idaman tidak hanya bagi saya, para blogger, namun juga bagi semua orang. Saya juga yakin, dalam perlombaan ini tidak hanya bentuk persaingan ide dan karya semata yang dikedepankan, dibalik itu semua ada segumpal harapan yang disampaikan oleh UII (yang ternyata juga merupakan harapan kita semua) kepada masyarakat luas khususnya para blogger untuk menuangkan ide-ide yang dapat mewujudkan sebuah perguruan tinggi yang menjadi idaman.

Hal itulah yang sedikit banyak telah memotivasi saya untuk menulis artikel ini, dari artikel yang hanya secuil ini terselip harapan dalam diri semoga artikel ini dapat menjadi bagian kontribusi ide dan saran untuk mewujudkan perguruan tinggi yang kelak akan menjadi idaman bagi kita semua, anak-anak dan cucu-cucu kita. Dengan penuh segala kerendahan hati, saya menyadari bahwa hanya Allah-lah yang memiliki segala kesempurnaan, sehingga masih banyak lagi rahasia-Nya yang belum kita ketahui. Oleh karenanya saya senantiasa mengharapkan kritik dan saran membangun dari semua pihak yang pada akhirnya akan membuat ide dan pemikiran kita jauh lebih berkembang dan dapat memberikan kontribusi yang positif.

Pesan saya adalah “Pemenang bukan berarti yang terbaik, dan yang terbaik belum tentu pemenang“. Kepada teman-teman bloger, marilah kita jadikan blog sebagai media ajang membangun peradaban, dan kepada teman-teman peserta lomba blog UII semangatlah terus untuk berkarya, ini bukan hanya persaingan ini adalah ajang membangun bangsa, karena setiap ide anda akan menjadi bagian dari rangkuman ide-ide untuk mewujudkan perguruan tinggi yang menjadi idaman kita semua.

REFERENSI :

1. Buku dan Artikel

__________2005. Departemen Agama RI: Al-Qur’an dan Terjemahannya. Bandung: PT. Syaamil Cipta Media

__________2008. Sistem Informasi Manajemen Universitas Islam Indonesia : Layanan Teknologi Informasi Bagi Mahasiwa UII. Yogyakarta: Badan Sistem Informasi UII

__________2007. Pedoman Penjamin Mutu Akademik Universitas Indonesia. Depok: BPMA-UI

Agustian, Ary Ginanjar. 2009: Rahasia Membangun Kecerdasan Emosional dan Spiritual : ESQ (Emotional Spiritual Quotient) The ESQ Way 165. Jakarta: Arga Publishing

Sudiro. 2010. Membangun Visi Bersama ( Fokus dan Energi Belajar). Jakarta: Building Shared Vision,

2. Pranala

http://academica.gamatechno.com

http://blog.kompetisi.uii.ac.id

http://id.wikipedia.org

http://news.mercubuana.ac.id/

http://pertukaranpelajar.blogspot.com

http://uii.ac.id

http://www.aptikom.net

http://www.chem-is-try.org

http://www.ditpertais.net

http://www.google.co.id

http://www.itb.ac.id/news/1668.xhtml

http://www.puskur.net

Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php)

3. Sumber Gambar

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:2OMogyb1eUWu0M::upload.wikimedia.org/wikipedia/common/2/26/SOAS_Library_interior_view.jpg&t=1&h=195&w=260&usg=__3AYYJx6-VS0DGCkLsjRV_YsUmn8=

http://farm4.static.flickr.com/3401/3494018315_d6517b979b.jpg?v=0

4. Sumber Video

http://www.youtube.com


Comments
15 Responses to “PERGURUAN TINGGI IDAMAN DALAM PERSPEKTIF SEORANG BLOGGER”
  1. aditkus mengatakan:

    Bah panjang nia pembahasaannya, izin komen dulu baru baca

    • Sabjan Badio mengatakan:

      Betul panjang dan lengkap. Sedikit kritik, sumber gambarnya kok tidak ditegaskan ya?

      • Kang Javas mengatakan:

        Ups, terimakasih mas atas masukannya, segera ke TKP untuk intropeksi dan evaluasi, sekali lagi trimakasih bgt dah diingetin.

  2. tulisannya keren mas, luar biasa..inilah juaranya

    salam kenal, dukung juga saya di kontes SEO Bisnis Online Rahasia Dahsyat

    Regards

    Leader Street

  3. goklasmichael mengatakan:

    tulisannya bagus banget nih. menyeluruh pembahasannya

  4. fajarwerdana mengatakan:

    Judul Buku: Ekotoksikologi Teknosfer
    Penulis: Prof. Dr. Ir. Sarwoko Mangkoedihardjo
    Tahun Terbit: 2010
    Harga: Rp. 62.500,-

    Bahan berbahaya dan beracun terdapat di alam sejak terbentuknya bumi. Namun makhluk hidup produsen primer (tumbuhan), konsumen (hewan dan manusia) dan pengurai (mikroba) dapat hidup di bumi bahkan tumbuh berkembang. Bahkan perkembangan manusia meningkatkan keragaman bahan berbahaya dan beracun dan meskipun ada makhluk hidup yang punah namun secara umum kehidupan terus berlanjut. Mengapa makhluk hidup dapat hidup berkelanjutan meskipun lingkungannya terdapat bahan beracun dan berbahaya?.

    Cukup banyak referensi ilmiah memberikan jawabnya melalui berbagai dasar teori dan prakteknya. Namun, buku ini memberikan jawab melalui kajian paparan kinetika zat di lingkungan dan dinamika zat dalam makhluk hidup disertai contoh kuantitatif yang langka. Dengan sengaja, indikator makhluk hidup didestruksi dengan zat berbahaya dan beracun untuk memperoleh batasan takaran zat yang tidak memberikan efek negatif bagi makhluk hidup. Metode destruksi makhluk hidup berikut interpretasi hasil uji toksisitas zat disajikan cukup memadai untuk tujuan tersebut, yang tidak mudah diperoleh dalam satu atau beberapa referensi.

    DAFTAR ISI:

    • Pendahuluan • Landasan Ekotoksikologi • Kerangka Kajian Ekotoksikologi • Kinetika Zat Dalam Ekosistem • Dinamika Zat Dalam Makhluk Hidup • Metode Uji Toksisitas Zat • Metode Analisis Hasil Uji Toksisitas • Batasan Mutu • Teknosfer Industri: Kajian Stimulan Biotoksikologi Produk Campuran Zat • Teknosfer Air Minum: Kajian Stimulan Mikrotoksikologi • Teknosfer Air Limbah: Kajian Stimulan Mesokosmos dan Fitotoksikologi • Teknosfer Sampah: Kajian Stimulan Biotoksikologi Campuran Lindi dan Kompos • Pengelolaan Ekosistem: Kajian Stimulan Ekotoksikologi Laut • Road Map Ekotoksikologi Teknosfer • Tanya Jawa

  5. Team Ronggolawe mengatakan:

    Berkunjung menjalin relasi dan mencari ilmu yang bermanfaat. Sukses yach ^_^ Salam dari teamronggolawe.com

  6. Ismail Agung mengatakan:

    sama dengan yang di atas. komen dulu baru baca karena saking panjangnya.

    sungguh pendefinisian yang sangat panjang sekali. dan tentu saja mendetail.

    padahal kalau dipotong-potong jadi beberapa artikel kayaknya bagus deh, kan saya yang bacanya moodnya ga turun duluan karena terkaget-kaget dengan pembahasan yang sungguh sangat eheum panjang. hehehehe

    GOOOOOOD dan sukses

    • Kang Javas mengatakan:

      Heheheheeeeeee…… ya begitulah adanya sobat, mohon maaf kalau banyak kekurangan, dan terimakasih atas kunjungan dan masukannya. Sukses juga buat semuanyaaaaa…..

  7. legal steroids mengatakan:

    Very interesting info, i’m waiting for more !!! Keep updating your site and you will have a lot o readers

  8. sportingbet uk mengatakan:

    I love your site design! What template did you use ?

    • Javasland Underconstruction mengatakan:

      Terimakasih banyak atas apresiasinya, saya hanya menggunakan Organic Theme dari WordPress dengan sedikit sentuhan untuk terlihat sedikit lebih menarik menurut pandangan saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: