DIFABEL


Difabel merupakan singkatan dari Different Abled People. Istilah yang mulai digunakan di Indonesia pada 1999 itu berarti orang dengan kemampuan berbeda. Difabel merupakan istilah baru pengganti sebutan penyandang cacat yang selama ini banyak digunakan.

Dalam Deklarasi Hak Penyandang Cacat yang dicetuskan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan resolusi 3447 tertanggal 9 Desember 1975 di New York, penyandang cacat berarti setiap orang yang tidak mampu menjamin oleh dirinya sendiri, seluruh atau sebagian, kebutuhan individual normal dan/atau kehidupan sosial, sebagai hasil dari kecatatan mereka, baik yang bersifat bawaan maupun tidak, dalam hal kemampuan fisik atau mentalnya.

Di Indonesia, kaum difabel dibagi menjadi tuna netra (buta), tuna rungu (tuli), tuna wicara (bisu), tuna daksa (tidak memiliki tangan dan/atau kaki), tuna laras ( kelainan perilaku), tuna grahita (kelainan mental) serta tuna ganda. Jumlah kaum difabel di dunia sungguh sangat banyak.

Selain itu, kaum difabel pun harus diberi kemudahan guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.

UU juga menegaskan bahwa kaum difabel alias penyandang cacat mempunyai hak dan kesempatan yang sama dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan.

Dalam pasal 6 UU Penyandang Cacat di sebutkan, setiap penyandang cacat berhak memperoleh: pendidikan pada semua satuan, jalur, jenis, dan jenjang pendidikan; pekerjaan dan penghidupan yang layak sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya; perlakuan yang sama untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya.

Kaum difabel juga berhak menikmati aksesibilitas dalam rangka kemandiriannya; rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial; dan hak yang sama untuk menumbuhkembangkan bakat, kemampuan, dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat anak dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Sesungguhnya, ajaran Islam tak membedakan derajat manusia dari fisiknya. Karena manusia yang paling mulia di sisi Sang Khalik adalah manusia yang bertakwa. Rasulullah SAW pun sangat menghormati dan memuliakan kaum difabel. Sehingga, umat Islam harus berperan penting dalam mengikis diskriminasi terhadap kaum difabel. ■ heri ruslan

Sumber : Republika

About these ads
Comments
2 Responses to “DIFABEL”
  1. Soemantri Ridwan mengatakan:

    Punten Kang ngiring nglangkung. Kaget oge baca artikel di atas walaupun petikan dari media. pertanda Akang aya perhatosan ke penyandang cacat anu ayeuna tos diubah menjadi penyandang disabilitas. Alesan Akang muat eta artikel naha nya? Hatur nuhun.

    • Kang Javas mengatakan:

      Assalamu’alaikum….
      Mangga, sateuacanna hatur nuhun kang parantos nyumpingan kana ieu rorompok maya !.

      Terus terang kang,
      disaat saya malas,
      disaat saya mengeluh,
      disaat saya emosi,
      disaat saya kecewa,
      dan disaat saya putus asa,
      saya sering merasa malu dengan saudara-saudara saya yang (maaf) dengan segala kekurangannya (seperti judul artikel diatas) mereka tetap semangat, tegar, ceria dan menatap hidup dengan penuh senyuman, harapan dan optimisme. Dari situ saya sadar bahwa ternyata mereka secara hati lebih dari yang berfisik baik. Terus terang saya ingin belajar banyak dari mereka, yaitu belajar hidup dengan kekurangan sebelum Allah memberikan kekurangan kepada saya, belajar hidup terbatas sebelum Allah memberikan keterbatasan.

      Kadang saya juga sering berpikir, beruntunglah mereka yang telah diuji dengan kesulitan dan keterbatasan oleh Allah, dan lebih beruntung lagi yang telah lulus dari ujian tersebut, karena dengan begitu mereka telah mampu memaknai hidup. Saya yakin Allah Maha Adil, tiada yang sia-sia atas segala ciptaan-Nya, yang ada justru kita yang telah menyia-nyiakannya, dan salah satu upaya membangkitkan kesadaran untuk tidak menyiakan-nyiakan pemberian Allah, yaitu tadi, belajar dari saudar-saudara kita yang dalam keterbatasannya ternyata mempu menjadikan hidup totalitas seolah-olah tanpa batas. Bersyukur kepada Allah, pada hari Jum’at, tanggal 30 Mei 2010 saya membaca di harian Republika yang isinya ada diatas, hingga akhirnya sayapun mengutipnya di blogg ini, saya hanya berharap “mudah-mudahan ini bermanfaat”.

      Cara pandang saya mengenai hubungan antar sesama insan hanya satu, HANYA DENGAN RASA KEMANUSIAAN KITA DAPAT MENEMBUS SEKAT PERBEDAAN. Itulah kang, sekelumit alasan kenapa saya mempostingnya, mohon maaf ata segala kekurangan dan kesalahannya, terimakasih sekali lagi kang sudah mampir kesini.

      Wassalamu’alaikum…..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: